Pantau Flash
Semua Anggota Polri Dilarang Pamer Kekayaan di Media Sosial
Luhut Panjaitan: Kami Nggak Mau Teknologi Kelas 2 Datang ke Indonesia
Banderol Marko Simic Terlalu Tinggi untuk Sepak Bola Indonesia
Kadin Bentuk Tim Satgas Imbas Eskalasi Perang Dagang AS-China
China Tepis Laporan New York Times Soal Tawanan Pengungsi Muslim Uighur

Ini Alasan Kenapa Manusia Lakukan Pembunuhan Menurut Sains

Headline
Ini Alasan Kenapa Manusia Lakukan Pembunuhan Menurut Sains Ilustrasi pria menggunakan senjata. (Foto: psychologytoday)

Pantau.com - Beberapa kasus pembunuhan dengan menghilangkan nyawa kini semudah mengoleskan sepotong roti panggang hangat di meja.

Baru-baru ini, masyarakat dikejutkan dengan kisah pembunuhan ayah-anak bernama Edi Candra Purnama alias Pupung Sadili (54) dan anaknya M Adi Pradana alias Dana (23).

Dasarnya, hanya karena terlilit utang di bank sebesar kurang lebih Rp10 miliar. Aulia Kesuma istri dari Pupung menyewa pembunuh bayaran untuk melancarkan aksinya itu. Tentu ini menjadi kisah paling mengerikan yang pernah terjadi. 

Baca juga: 5 Fakta Baru Pembunuhan Ayah-Anak yang Didalangi Aulia Kesuma

Yang menjadi pertanyaan, kenapa manusia begitu kejam hingga melakukan tindakan kekerasan. Di Indonesia sendiri tercatat mengalami kecenderungan fluktuatif berdasarkan data Badan Pusat Statistik terkait tindak kriminal.



Dari tabel di atas memperlihatkan jumlah kejadian kejahatan terhadap nyawa pada tahun 2013 hingga 2015 mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 melonjak menjadi 1.491 

kasus (tertinggi pada kurun waktu lima tahun terakhir). Angka ini kembali menurun pada tahun 2016 menjadi 1.292 kasus dan tahun 2017 menurun kembali menjadi 1.150 kasus.

Sebagian besar mengidentifikasi gejala yang muncul dengan memprediksi perilaku membunuh, tetapi ada beberapa penjelasan menunjukkan mengapa perilaku tersebut terjadi. Penyakit mental menjadi satu-satunya alasan untuk melakukan kekerasan, tetapi penyakit ini lebih kepada memperlihatkan perilaku yang menyimpang.

Banyak dari kita menggunakan kata-kata "dia gila" atau "hilang akal" ketika mendengar tentang suatu tindakan kejahatan yang tidak masuk akal. Lantas menurut Psychology Today menyebut "para ahli" gagal secara akurat mendiagnosis penyebab kekerasan. 

Baca juga: Begini Kabar Terbaru Aulia Kesuma Usai Jalani Pemeriksaan di Mapolda Metro

Biasanya hanya perilaku pelaku yang diperiksa, mereka gagal mengakui bahwa tindakan yang sama dapat mewakili beberapa motif. Kedua, gagal mengambil kesimpulan hingga menjadi salah persepsi. 

Contohnya ketika terkena flu, penting untuk menghilangkan gejalanya agar merasa lebih baik. Praktis kita mencari pengobatan untuk mengetahui akar penyebabnya.

Kesimpulannya seperti si pembunuh yang "frustrasi," "marah," atau "dendam", sebagian tidak membahas sumber emosi atau mengapa kepuasan emosional dicapai melalui tindakan kekerasan.

Kekerasan Memiliki Lima Motif

Investigasi perilaku kekerasan dari perspektif sains mengungkapkan ada lima motif dalam melakukan tindakan kekerasan. Masing-masing menyajikan penjelasan parsial yang mungkin mengapa sebagian orang begitu menikmatinya.

1. Mencapai Tujuan

Salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah meyakini bahwa kita memiliki bakat dan kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ketika pencapaian atau tujuan dihadang, beberapa orang merasa kalah, merasa tidak kompeten karena hasil yang diinginkan tampak tidak dapat diraih.

Dalam keadaan ideal, kita mencoba menggunakan pendekatan berbeda untuk mencapai tujuan. Namun, jika kita kita tidak memiliki kendali atas hidup atau meragukan kemampuan untuk mencapai tujuan, kita menjadi frustrasi. 

Pada gilirannya, frustrasi — emosi yang sangat tinggi — harus dihilangkan atau kita terus merasa buruk terkait ketidakmampuan yang kita rasakan. Solusi sederhana adalah mengubah tujuan atau target yang lebih mudah. Pembunuhan, merupakan cara paling menjijikkan, tidak sulit secara fisik untuk dilakukan mengingat canggihnya persenjataan saat ini. Satu kali menekan pelatuk, itu bisa menghilangkan nyawa agar tujuan kotor bisa terpenuhi.

2. Kecerdasan Emosi (EI)

Kecerdasan emosional (EI) adalah kemampuan untuk mengenali dan mengevaluasi emosi dalam diri dan orang lain. Kita menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah dan menavigasikan tujuan hidup. 

Tidak mengganggu seseorang yang jelas-jelas lagi marah adalah contoh dari seseorang yang memiliki EI tinggi. Meskipun orang skeptis memiliki EI. Karenanya kecerdasan emosi dapat diukur secara lebih efektif yakni

(a) Individu yang menunjukkan EI memiliki strategi yang efektif untuk menghadapi berbagai emosi.

(b) Individu dengan EI tinggi lebih sukses secara pribadi dan profesional daripada individu yang EI rendah.

(c) Strategi emosional dapat disalurkan dengan baik.

Individu yang melakukan serangan tidak memiliki strategi mengatur emosi. Kita juga tahu bahwa emosi bisa berlanjut dengan tingkat pembalasan hingga merasa frustrasi, dan bisa juga mengurangi tekanan emosional. Sebagai contoh kamu pernah meninju dinding ketika marah. Di sisi lain, dalam pikiran si pembunuh, pembunuhan mungkin menjadi strategi pilihan untuk mengurangi emosi.

3. Rasa Puas

Kamu mungkin ingin memiliki mobil mewah untuk dikagumi oleh teman-teman. Terlepas dari motif tersebut, kamu mengharapkan sesuatu yang nyata sebagai imbalan atas investasi perhatian atau uang. Imbalan terbaik membutuhkan waktu dan upaya, termasuk hal-hal seperti pendidikan lanjutan, kekayaan, atau sebuah hubungan yang kuat.

Namun, kita terkadang tidak mau menginvestasikan waktu atau upaya yang diperlukan untuk mendapatkan hasil terbaik karena ingin segera melihat hasil dari sebuah tindakan. Sebuah tes marshmallow yang menawarkan anak-anak untuk menikmati camilan, dua marshmallow membutuhkan waktu 15 menit, lantas dibutuhkan waktu untuk menikmatinya. 

Eksperimen ini menjadi landasan peluncuran penelitian selama bertahun-tahun yang membuktikan bahwa mereka menunjukkan kontrol diri dan mampu menunggu untuk mencapai waktunya, seperti mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan lebih sehat dan lebih kaya daripada individu yang tidak memiliki kontrol diri. 

Namun, beberapa dari kita tidak pernah belajar dengan benar bahwa menahan hasrat biasanya menghasilkan hasil yang lebih bermanfaat. Lantas, ketika pembunuhan dilakukan, ada sedikit keterlambatan dalam mencapai kepuasan. Ada perencanaan yang rumit, tetapi begitu melakukan eksekusi untuk bertindak, hasilnya hampir memuaskan bagi mereka yang benci menunggu.

Baca juga: Deretan Kasus Mutilasi Paling Bikin Gempar di Indonesia

4. Pengakuan Kompetensi

Manusia berusaha untuk berkompetensi karena itu mendefinisikan siapa kita dan fungsi dasar untuk mendapatkan pencapaian dan pengakuan. Dengan tidak adanya penghargaan dari orang lain, refleksi diri yang negatif dapat berkembang, menciptakan perasaan tidak mampu karena kebutuhan akan kompetensi ditolak. 

Kompetensi tidak selalu berarti mendapatkan pengakuan untuk perilaku yang diinginkan secara sosial seperti menjadi orang tua yang baik atau karyawan yang dapat diandalkan. Ironisnya, pengakuan dari media, penegakan hukum, dan lainnya diperoleh oleh pembunuh melalui cara dari tindakan yang paling licik dan keji.

Apapun, ketika kita merasa kompeten kita diberi kemampuan soal nilai dan kemampuan. Namun banyak psikopat, pembunuh, dan pembunuh berantai jarang menunjukkan pola kompetensi tradisional dan pengakuan terkait untuk prestasi mereka. 

Pembunuh sering digambarkan sebagai sosok penyendiri, rasa tidak hormat dan sedikit pengakuan dari orang lain, sampai tentu saja mereka telah melakukan kejahatan yang tidak terpikirkan. Kemudian, hampir pembunuh yang sebelumnya menderita ini diakui secara menyeluruh bahwa kompetensi bejat mereka dipenuhi melalui kematian orang lain.

5. Timbal Balik Sosial

"Mata ganti mata," "gigi ganti gigi," "bunuh atau terbunuh," dan "jangan marah, balas," adalah pikiran yang selalu menari di pikiran banyak orang yang merasa dirugikan. Motif balas dendam dapat menjadi katalisator perilaku yang kuat hingga terus berlanjut sampai individu yang difitnah percaya bahwa mereka telah memperbaiki ketidaksetaraan yang dirasakan. 

Biasanya kita memberikan sesuatu kepada orang seperti hadiah, karena orang tersebut pernah memberikan sesuatu. Tetapi dalam pikiran penjahat itu berarti menghilangkan rasa frustrasi pada orang lain. Memuaskan motif timbal balik sering kali menghasilkan pelecehan, kekejaman, perilaku kekerasan, dan kemungkinan pembunuhan. 

Dalam pikiran yang bejat, ketika suatu tindakan tidak dibalas, reaksi gegabah dan perilaku keji akan mengikuti karena sebagian besar individu merasa ada ketidakadilan sosial atau materialistis.

Jadi, apa perbedaan antara kamu dan seorang pembunuh? Pertama, kamu sadar bahwa ada cara yang lebih bisa diterima secara sosial untuk mencapai tujuan daripada menghilangkan rasa frustrasi kepada orang lain. Berbeda dengan psikopat "Saya menginginkannya sekarang".  Kamu juga harus tahu, ada pepatah mengatakan "menarik lebih banyak lebah dengan madu dibandingkan dengan cuka,". Intinya bagaimana menyalurkan emosi kita secara produktif bisa mempertahankan hubungan positif dengan orang lain. 

Tentu kamu berbeda dari si pembunuh, karena mungkin memiliki sosok panutan yang positif, satu atau lebih mentor seperti orang tua, teman, dan rekan kerja. Dengan tidak adanya teman atau kerabat yang kredibel untuk mengajari kita cara-cara yang dapat diterima secara sosial untuk mengatasi frustrasi dan kegagalan, beberapa orang menggunakan strategi yang licik untuk menghilangkan rasa sakit psikologis mereka.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - RZS
Category
Ragam

Berita Terkait: