Pantau Flash
Catat! Ini Janji Menko Luhut Soal Solusi Masalah Sawit Indonesia
Menlu Iran: AS Tak Bisa Bikin Teluk Persia Kacau
Dari 20 Nama 4 Anggota Polri Lolos Profile Assessment Jadi Capim KPK
Dirut Jasa Marga Dukung Pemindahan Ibu Kota: Tol di Kalimantan Sudah Ada
Kapolsek Sukajadi Diperiksa karena Diduga Kirim Miras ke Mahasiswa Papua

Keluh Warga Timor Leste Jual Tanah Rp41.809 per Meter Demi Bandara Negara

Headline
Keluh Warga Timor Leste Jual Tanah Rp41.809 per Meter Demi Bandara Negara Bandara Internasional Xanana Gusmao yang megah namun selalu sepi penerbangan. (Foto: ABC News/Michael Barnett)

Pantau.com - Niat hati membangun Bandara dan jalan tol, agar menjadi akses bisnis di Timor Leste, rupanya tidak banyak digunakan.

Pembangunan yang kerap disebut Proyek Tasi Mane ini rupanya menyimpan kisah dari mereka yang rela menjual tanahnya.

Salah seorang penduduk Suai yaitu Leonel Amaral yang setuju menjual rumah dan tanahnya demi pembangunan jalan untuk bandara baru. Sebagai imbalannya, katanya, dia dijanjikan bahwa anak-anaknya akan diberikan pekerjaan di bandara.

"Saya ingin dua anak saya bekerja di bandara karena saya telah menyerahkan tanah saya kepada negara," katanya dikutip ABC.

"Mereka menjanjikan anak-anak kami akan bekerja di bandara. Tetapi sampai hari ini, tidak seorang pun anak saya yang bekerja di sana," ujar Leonel.

Baca juga: Bak RI Miliki Cadangan Migas Besar, Timor Leste Malah Ditinggal Operator

"Kami ditawari 7 dolar per meter untuk tanah kami, lalu mereka menguranginya menjadi 4 dolar per meter. Tapi mereka hanya membayar 3 dolar per meter (Atau Rp41.809 per meter)" jelasnya.

Warga yang tergusur sekarang tinggal di daerah baru yang dibangun tepat di sebelah bandara.

Penduduk mengakui bahwa Pemerintah memberi mereka rumah baru di sini, yang dibangun oleh perusahaan Australia.

Tetapi rumah-rumah itu, kata warga, lebih cocok untuk iklim Australia yang dingin, dan terlalu panas untuk iklim setempat. Banyak warga lainnya mengeluh telah kehilangan tanah pertanian yang berharga.

"Mereka kini mengabaikan kami," kata Leonel.

Bagaimana pun Timor Leste bertekad meneruskan Proyek Tasi Mane, dengan keyakinan negara ini akan menjadi pemenang begitu royalti dari Greater Sunrise mulai masuk.

Baca juga: Belasan Tahun Merdeka dari RI, Ini Kondisi Perekonomian Timor Leste

Timor Gap memproyeksikan laba bersih hampir 45 miliar selama masa proyek itu, meskipun pengembalian laba pertama baru akan terjadi tahun 2030. Tapu itu sudah cukup baik bagi CEO Timor Gap Francisco Monteiro.

"Mengapa kita berpikir tentang kegagalan?" katanya.

Sebagai salah satu negara dengan populasi termuda di dunia usia rata-rata adalah 17 tahun dikhawatirkan memicu pengangguran dalam beberapa tahun ke depan.

"Cara membangun negara ini adalah industrialisasi. Kami tidak bisa hidup seperti sekarang. Jika masih seperti ini selama lima hingga 10 tahun lagi, kami akan mengalami masalah," kata Monteiro.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: