Pantau Flash
Rp54 Juta dan 2.600 Dolar AS Disita KPK dari Rumdin Bupati Lampung Utara
Pasca Diserang, Raja Salman Sepakat Tambah Pasukan Militer AS
Juarai F1 GP Jepang, Bottas Antar Mercedes Kunci Gelar Juara Konstruktor
7 Paus Ditemukan Mati Terdampar di Pantai Nusa Tenggara Timur
Tampil Lawan Norwegia Semalam, Sergio Ramos Pecahkan Rekor Lampaui Casillas

Mengenal Generasi 'Sandwich', Ganjaran Sebuah Kesalahan Orangtua

Mengenal Generasi 'Sandwich', Ganjaran Sebuah Kesalahan Orangtua Ilustrasi pekerja. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Sulitnya menjadi generasi 'sandwich' yang harus bertanggung jawab atas kebutuhan finansial generasi di atas dan di bawahnya dapat diatasi dengan pendekatan manajemen, demikian pendapat praktisi investasi.

Ekonom yang juga pendiri perusahaan bidang investasi, PT LBP Enterprises Internasional, Lucky Bayu Purnomo di Jakarta, beberapa waktu yang lalu, mengatakan generasi sandwich muncul dari perencanaan keuangan orangtua yang kurang matang, yang akhirnya menjadi beban bagi generasi selanjutnya.

"Usia yang masuk dalam generasi 'sandwich' sekitar 30 sampai 40 tahun. Tidak masalah kalau finansial kita bagus, akan menjadi masalah kalau keuangan kita kurang bagus. Padahal, kita juga harus memenuhi kebutuhan sendiri," kata Lucky.

Baca juga: Ungkap Perbandingan Penggunaan Internet di 4 Generasi

Generasi 'sandwich', yang mengambil istilah dari roti lapis sandwich, merupakan julukan bagi kalangan pekerja muda usia yang harus menanggung pembiayaan pribadi dan keluarga inti sekaligus orangtuanya.

Untuk keluar dari masalah generasi 'sandwich', ia mengemukakan, yang harus dilakukan pertama kali adalah mendahulukan kebutuhan sendiri, namun bukan berarti menghentikan dukungan finansial untuk orangtua.

Oleh karena, ia menilai, sebagai anak membantu orangtua yang sudah pensiun merupakan kebanggaan.

Hal mendasarnya, ia menjelaskan, alokasikan pendapatan untuk menabung, asuransi, dan investasi.

"Setelah dikurangi untuk kebutuhan lain-lain. Sebesar 40 persen menabung, 30 persen asuransi, dan sisanya investasi," katanya.

Sebagai langkah awal bagi generasi 'sandwich', ia menambahkan, juga harus terbuka kepada orangtua mengenai kebutuhan biaya pribadi sekaligus menyarankan untuk menahan biaya sekunder.

"Intinya, jangan sampai kita menanggung biaya orangtua dengan berutang," ujarnya.

Kemudian, lanjut dia, memetakan pos keuangan, mana yang bisa ditahan dan membutuhkan dana lebih.

"Misalnya, saat orangtua memasuki usia senja, sementara anak masih di bawah usia lima tahun, maka harus ada dana prioritas kesehatan bagi orangtua. Asuransi dapat memperkecil risiko finansial," katanya.

Baca juga: Generasi X, Perhatikan Pola Makan Agar Tetap Sehat Hingga Tua

Lalu, dikemukakannya, menyusun anggaran untuk periode tertentu seperti cicilan, dan pengeluaran rutin keluarga.

Selain itu, lanjut Lucky, ajarkan pola hidup sehat pada orangtua, serta bantu kelola keuangan orangtua dengan memperkenalkan produk-produk investasi dan membantu mengembangkan dana.

Ia menambahkan agar mengajarkan anak untuk menabung, karena itu merupakan salah satu cara meringankan beban finansial bagi generasi sandwich ketika anak-anaknya sudah berkeluarga.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Rifeni
Category
Ragam

Berita Terkait: