Pantau Flash
Presiden Jokowi: Warung Kopi Lokal Diprioritaskan di Rest Area
Menteri Perdagangan: Izin e-Commerce Tidak Ada Pungutan Biaya
PKL Pasar Senen Direlokasi ke Pasar Metro Atom Pasar Baru
Greysia Polii/Apriyani Rahayu Raih Emas Ketiga Cabor Bulutangkis
Jokowi Siapkan Perpres Soal Penyakit TBC

Menunggu Keputusan Suku Bunga The Fed di Tengah Panasnya Harga Minyak Dunia

Headline
Menunggu Keputusan Suku Bunga The Fed di Tengah Panasnya Harga Minyak Dunia Ilustrasi dolar AS. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Kurs dolar diperdagangkan mendekati level tertinggi tujuh minggu terhadap pada Rabu pagi, karena pasar minyak pulih dari guncangan pasokan, tetapi fokus beralih ke pertemuan Federal Reserve (Fed) AS pada Rabu waktu setempat, yang secara luas diperkirakan akan memberikan penurunan suku bunga.

Sterling diperdagangkan mendekati level tertinggi enam minggu terhadap dolar karena beberapa spekulan mengurangi taruhan berlebihan pada penurunan pound Inggris, tetapi sentimen tetap lemah, karena ketidakpastian tentang bagaimana Inggris akan keluar dari Uni Eropa.

Mata uang utama cenderung diperdagangkan dalam kisaran sempit sebelum pertemuan The Fed. Ketua Fed Reserve Jerome Powell jelas-jelas menyiarkan niatnya untuk menurunkan suku bunga, sehingga beberapa analis memperingatkan bahwa dolar sebenarnya bisa melambung jika Fed melonggarkan kebijakan seperti yang diharapkan.

"Spekulan sudah terlalu rendah dalam dolar," kata Ahli Strategi Valuta Asing Daiwa Securities Yukio Ishizuki di Tokyo, Jepang.

Baca juga: Menteri Energi Arab Saudi Targetkan Produksi Minyak Pulih Akhir September

"Jika tidak ada kejutan dari The Fed, para spekulan harus melepaskan dolar mereka. Reaksi terbesar adalah dalam dolar/yen, karena Anda tidak dapat benar-benar membeli pound atau euro saat ini," tambahnya.

Dolar diperdagangkan pada 108,10 yen pada Rabu pagi, mendekati level tertinggi tujuh minggu di 108,37 yen.

Pound Inggris dikutip pada 1,2497 dolar AS, mempertahankan kenaikan 0,6 persen dari Selasa (17 September 2019), ketika sempat menyentuh tertinggi sejak 19 Juli.

Harga minyak jatuh sekitar enam persen pada Selasa (17 September 2019) setelah menteri energi Arab Saudi mengatakan kerajaan telah memanfaatkan persediaan minyak untuk mengembalikan persediaan minyak ke tempat mereka berdiri sebelum serangan pesawat tanpa awak selama akhir pekan, yang menutup sekitar lima persen dari produksi minyak global.

Ekonom dan analis secara luas memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga acuan untuk kedua kalinya tahun ini sebesar 25 basis poin menjadi 1,75 persen-2,00 persen pada pertemuan yang berakhir Rabu untuk melawan risiko yang ditimbulkan oleh perang perdagangan AS-China.

Baca juga: Warga AS Siap-siap, Harga BBM Akan Naik Mengikuti Serangan Saudi

Namun, sebuah anomali telah muncul dalam penetapan harga berjangka. Suku bunga jangka pendek melonjak semalam, yang menyebabkan The Fed menyuntikkan 53,15 miliar dolar AS ke dalam sistem keuangan dengan operasi pasar uang yang belum digunakan dalam lebih dari satu dekade.

Pergerakan kacau-balau di pasar uang dan pergerakan terakhir di dana federal berjangka AS berarti alat CME menunjukkan peluang 51 persen bahwa Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu waktu setempat.

Di tempat lain di pasar mata uang, euro berdiri di USD1,1072, datar sejauh ini di Asia. Dolar Australia diambil 0,68605 dolar AS, turun 0,07 persen pada awal perdagangan.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya turun 0,02 persen menjadi 98,242.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: