Forgot Password Register

Headlines

Rizal Ramli Soal Kereta Cepat JKT-BDG: Mark Up Paling Tidak 20 Persen

Rizal Ramli Soal Kereta Cepat JKT-BDG: Mark Up Paling Tidak 20 Persen Cuitan Rizal Ramli. (Twitter/@RamliRizal)

Pantau.com - Pemerintahan baru Malaysia menghentikan proyek kereta api sepanjang 688 km tahun lalu, karena kekhawatiran harga yang terlalu mahal.

Tahun ini, Malaysia akan melanjutkan pekerjaan pada East Coast Rail Link (ECRL) multi-miliar dolar setelah berbulan-bulan negosiasi dengan China Communications Construction Company (CCCC) dan pemerintah China untuk menurunkan biaya hingga sepertiganya.

Dikutip Aljazeera, biaya pertama di pembangunan fase ke dua dari jalur tersebut dikurangi dari 65,5 miliar ringgit Malaysia (USD15,9 miliar atau Rp224 triliun lebih) menjadi 44 miliar ringgit Malaysia (USD10,6 miliar atau Rp149 triliun lebih), kata Kantor Perdana Menteri dalam pernyataannya.

Baca juga: Rupanya Jokowi Request Kuota Haji Indonesia Jadi 250 Ribu per Tahun

Malaysia mengatakan pihaknya menyambut baik penandatanganan perjanjian tambahan antara Malaysia Rail Link dan CCCC, kontraktor utama, yang akan membuka jalan untuk pembangunan kembali kereta api sepanjang 688 km itu.

"Pengurangan ini pasti akan menguntungkan Malaysia, dan meringankan beban pada posisi keuangan negara itu," tambahnya. 

Kereta listrik ini dirancang untuk menghubungkan ibukota Malaysia dengan kota-kota di timur dan timur laut semenanjung itu, dan didukung oleh pinjaman dari China, disebut-sebut sebagai pengubah permainan ekonomi oleh mantan Perdana Menteri Najib Razak.

Baca juga: Catat! Anda Dapat Uang Lembur Jika Masuk di Hari Pencoblosan

Para kritikus mengatakan, proyek tersebut lebih menguntungkan China dari Malaysia. China sedang membangun pelabuhan laut dalam di pantai timur Malaysia dan jalur kereta api adalah penghubung utama dalam Inisiatif Sabuk dan Jalannya.

Najib digulingkan dalam pemilihan umum hampir setahun yang lalu di tengah kemarahan publik atas tuduhan melakukan kesalahan di dana negara, 1MDB.

Proyek ECRL dihentikan oleh administrasi baru tidak lama setelah itu karena terlalu mahal. Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengatakan dia khawatir biaya pembangunan akan membuat negara itu berhutang budi selama satu generasi.

Baca juga: Nekatnya Trump Lawan China: Kami akan Menang dengan Cara Apapun

Hal ini rupanya telah mengundang cuitan Ekonom Senior Rizal Ramli yang mengatakan proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung milik Indonesia paling tidak bisa mark up mencapai 20 persen. 

Jika melihat paparan sebelumnya, proyek Kereta Api Cepat milik RI, Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) mencatat biaya total proyek kereta cepat Jakarta-Bandung mencapai USD6,017 miliar atau setara Rp81,23 triliun. Angka ini sedikit meningkat dari total biaya yang diketahui sebelumnya yaitu USD5,99 miliar atau setara Rp80,86 triliun.

Porsi pembagiannya adalah total biaya tersebut, 75 persen akan dipenuhi melalui pinjaman dari China Development Bank (CDB) dan 25 persen akan dipenuhi dari ekuitas pemegang saham yaitu 40 persen konsorsium peursahaan China dan 60 persen PSBI.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More