Pantau Flash
Tundukkan Sesama Wakil Jepang, Yuki/Sayaka Rebut Juara Indonesia Open 2019
Vatikan Bongkar Makam untuk Cari Gadis Hilang 36 Tahun Silam di Roma
Cabor Bulu Tangkis Sukses Kawinkan Emas di Asean School Games 2019
Menteri Susi Ancam "Tenggelamkan" Pembuang Sampah Plastik ke Laut
Indonesia Pimpin Klasemen ASEAN School Games 2019

Surati Parlemen Eropa, Brunei Tegaskan Tetap Hukum Mati Pelaku LGBT

Surati Parlemen Eropa, Brunei Tegaskan Tetap Hukum Mati Pelaku LGBT Sultan Brunei akan memberlakukan hukum anti-LGBT yang mengerikan di negara itu. (Foto: ABC News/Jarrod Fankhauser)

Pantau.com - Brunei menyurati Parlemen Eropa sebagai upaya untuk mempertahankan keputusannya dalam menjatuhkan hukuman mati terhadap hubungan seksual sesama jenis, yang diklaimnya akan menjaga kesucian garis keturunan keluarga dan pernikahan.

Dalam sepucuk surat kepada para Anggota Parlemen Eropa (MEP) tertanggal 15 April, perwakilan negara itu di UE menuliskan Brunei memberlakukan undang-undang sendiri untuk menjaga nilai-nilai tradisional, agama dan budayanya, dan tak ada standar umum yang bisa diterapkan di semua negara.

Brunei, mantan jajahan Inggris yang berpenduduk mayoritas Muslim dengan populasi sekitar 400.000, mulai menerapkan hukum Syariah mulai 3 April, menghukum sodomi, perzinahan dan pemerkosaan dengan hukuman mati, termasuk dengan melempari batu, dan pencurian dengan amputasi.

Baca juga: Sosmed Hotel Sultan Brunei Nonaktif Usai Polemik Hukuman Mati LGBT

Dalam surat itu, Brunei menyerukan toleransi dan penghormatan atas kedaulatan dan nilai-nilainya, dan mengatakan hukum Syariah dan sistem hukum umum akan berjalan secara paralel untuk menjaga perdamaian dan ketertiban, seperti dilansir ABC News, Rabu (24/4/2019).

"Kriminalisasi perzinahan dan sodomi dilakukan untuk menjaga kesucian garis keturunan keluarga dan pernikahan umat Muslim, terutama perempuan," katanya.

"Dengan demikian pelanggaran itu tidak akan berlaku untuk non-Muslim kecuali tindakan perzinahan atau sodomi dilakukan dengan seorang Muslim," tambahnya.

Ia melanjutkan, kematian dengan dilempari batu dan diamputasi -yang dikenakan karena pelanggaran pencurian, perampokan, perzinahan dan sodomi - memiliki ambang pembuktian yang sangat tinggi yang membutuhkan tidak kurang dari dua atau empat orang yang bermoral dan memiliki kesalehan tinggi sebagai saksi.

"Mirip dengan sistem hukum umum, praduga tak bersalah dan proses hukum sangat ketat dianut dalam memastikan pengadilan yang adil," sebut surat itu.

Baca juga: Terapkan Hukuman Mati LGBT, Brunei: Bentuk Tindakan Pencegahan!

UE kecam hukum Islam di Brunei

Parlemen Eropa mengecam Brunei setelah surat itu muncul, mengadopsi sebuah resolusi untuk mengutuk berlakunya KUHP Syariah yang terbelakang dan mendesak pihak berwenang Brunei untuk segera mencabutnya. Hukum itu disahkan dengan dukungan, kata Parlemen UE dalam sebuah pernyataan.

Para anggota Parlemen juga meminta Uni Eropa untuk mempertimbangkan pembekuan aset dan larangan visa di Brunei, dan untuk mencekal sembilan hotel yang dimiliki oleh Badan Investasi Brunei, termasuk The Dorchester di London dan The Beverley Hills Hotel di Los Angeles.

"Pemerintah Brunei mencoba untuk mengecilkan kemunduran yang mengerikan, mengerikan untuk hak asasi manusia," kata Barbara Lochbihler, seorang anggota Parlemen dan penulis utama resolusi parlemen tersebut.

"Kami tak bisa mengecualikan kemungkinan bahwa mereka mulai menerapkan ini," tambahnya.

Federica Mogherini, perwakilan UE untuk urusan luar negeri, menambahkan bahwa hukuman itu tak bisa dibela.

"Tidak ada kejahatan yang membenarkan amputasi atau penyiksaan, apalagi hukuman mati," katanya kepada Parlemen ketika resolusi itu diperdebatkan.

"Seharusnya tidak ada orang yang dihukum karena mencintai seseorang," tambahnya.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: