Forgot Password Register

Survei LSI Denny JA: Dua Bulan Kampanye Pilpres, Isu Sensasional Lebih Populer Dibanding Adu Program

Survei LSI Denny JA: Dua Bulan Kampanye Pilpres, Isu Sensasional Lebih Populer Dibanding Adu Program Survey LSI Denny JA (Foto:Pantau.com/ Lilis Varwati)

Pantau.com - Masa kampanye Pilpres 2019 telah berjalan kurang lebih dua bulan. Selama itu isu yang berkembang di publik, baik melalui media sosial juga media massa, lebih banyak bersifat sensasional daripada adu program tiap capres-cawapres.

"Isu-isu tersebut lebih banyak menjadi sensasi dalam diskursus publik selama masa kampanye dan tak banyak berpengaruh pada naik turunnya suara capres," kata Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar dalam konferensi pers di Kantor LSI, Jl. Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (6/12/2018).

Baca juga: Survei LSI Denny JA: 5 Ulama Paling Berpengaruh dalam Elektoral, Habib Rizieq Terbawah

Rully memaparkan, sedikitnya ada enam isu yang populer di masyarakat selama dua bulan masa kampanye ini. Di antaranya, penyelenggaraan Asian Games, kunjungan Joko Widodo ke korban gempa di Palu, kunjungan Jokowi ke korban gempa Lombok, Hoax Ratna Sarumpaet, lonjakan dolar Rp 15 ribu, dan pembakaran bendera HTI.

Rully menjelaskan, keenam program tersebut memiliki efek elektoral signifikan karena persentase dikenal publik di atas 50 persen. Dan efek disukai atau tidak disukai publik mencapai presentase di atas 60 persen.

Baca juga: Terkait Efek Elektoral Hoax Ratna Sarumpaet, Prabowo Pertanyakan Hasil Survei LSI Denny JA

Data tersebut merupakan hasil survei LSI Denny JA terhadap 1200 koresponden yang dilakukan pada 10-19 november 2018. "Ini kelemahan tim kampanye setiap paslon. Isu yang dikembangkan tidak lebih pada debat program tapi lebih pada sensasional," ucapnya.

Akibatnya dua bulan masa kampanye, adu program justru kalah dengan isu sensasional yang tidak berpengaruh pada kenaikan elektabilitas masing-masing paslon. Rully mengatakan, hingga saat ini elektabilitas paslon Jokowi-Ma'ruf masih unggul 20 persen dari paslon Prabowo-Sandi.

"Belum ada isu yang sifatnya sangat kuat untuk menghajar salah satu calon. Poin kita program belum jadi sorotan dari kedua pasangan. Opini publik masih bicara sensasional daripada program," tuturnya. 

Share :
Komentar :

Terkait

Read More