Pantau Flash
DPD RI Sebut Pilkada Bisa Kembali Dipilih oleh DPRD
127.462 Hektar Lahan di Kalimantan Hangus Terbakar Akibat Karhutla
BPJT Akan Pasang Alat Pengukur Berat Angkutan Barang di 8 Ruas Jalan Tol
Pertamina Terus Genjot Produksi Panas Bumi 1.877 MW
BNN: 90 Persen Kejahatan Jalanan Dilakukan Para Pengguna Narkoba

Turki Dianggap Beri Jalan untuk ISIS, AS Siapkan Konsekuensi Tegas

Turki Dianggap Beri Jalan untuk ISIS, AS Siapkan Konsekuensi Tegas Asap muncul dari kota perbatasan Suriah, Ras al-Ain terlihat dari wilayah Turki, kota Ceylanpinar di provinsi Sanliurfa, Turki, Rabu (9/10/2019). (Foto: Reuters)

Pantau.com - Amerika Serikat memperingatkan Turki di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahwa, negara itu akan menghadapi konsekuensi jika serangan terhadap kalangan milisi Kurdi di Suriah timur laut tidak melindungi penduduk atau menguntungkan militan ISIS.

Turki menggempur milisi Kurdi, yang bersekutu dengan AS, di Suriah. Gempuran itu memaksa ribuan warga mengungsi dan menewaskan puluhan orang.

Namun Duta Besar AS untuk PBB Kelly Craft, yang berbicara dalam sidang tertutup Dewan Keamanan PBB soal Suriah, tidak merinci konsekuensi yang dimaksud. "Kalau tidak mengikuti aturan, yaitu melindungi penduduk yang rentan, tidak menjamin bahwa ISIS tidak memanfaatkan aksi-aksi ini untuk menyusun kembali kekuatan, akan ada konsekuensinya," kata Craft di depan para wartawan.

Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara sudah menggelar sidang --atas permintaan lima negara Eropa, yakni Inggris, Prancis, Jerman, Belgia dan Polandia. Dalam pernyataan bersama, negara-negara Eropa tersebut mendesak Turki untuk menghentikan aksi militernya.

Baca juga: Gedung Putih Sebut Pemakzulan Trump oleh DPR Cacat Secara Konstitusi

Turki mulai melancarkan serangan beberapa hari setelah Presiden Donald Trump menarik pasukan AS dari kawasan itu dalam perubahan kebijakan, yang tiba-tiba muncul, setelah ia melakukan pembicaraan dengan Presiden Turki RecepTayyip Erdogan melalui telepon pada Minggu (6/10).

Turki mengatakan YPG Kurdi, yang merupakan komponen utama dalam Pasukan Demokratik Suriah dukungan Amerika Serikat, adalah kelompok teroris yang memiliki kaitan dengan para pemberontak Kurdi, kelompok yang telah memerangi Turki selama bertahun-tahun.

Trump membantah bahwa ia meninggalkan pasukan Kurdi, mitra paling efektif bagi AS dalam memerangi ISIS di Suriah.

Turki mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa operasi militer di Suriah timur laut akan dijalankan secara "proporsional, terukur dan bertanggung jawab."

"Operasi ini hanya akan menargetkan para teroris dan persembunyian mereka, tempat mereka berlindung, lokasi, kendaraan serta peralatan persenjataan mereka," kata Duta Besar Turki untuk PBB Feridun Sinirlioglu.

Baca juga: Mengenal Istilah 'Netral' yang Digunakan Turki sebagai Sebutan Teroris

"Semua tindakan pencegahan sedang diambil untuk menghindarkan penduduk sipil menjadi korban."

Turki mendasarkan Pasal 51 Piagam PBB sebagai pembenaran aksinya. Pasal tersebut mengatur soal hak individual ataupun bersama untuk membela diri dari serangan bersenjata.

Dewan Keamanan PBB sedang membahas suatu rancangan pernyataan, namun tampaknya kesepakatan tidak akan tercapai. Pernyataan seperti itu baru bisa dikeluarkan jika semua anggota Dewan setuju.

"Aspek-aspek lain menyangkut krisis Suriah harus diperhatikan, bukan hanya soal operasi Turki. Keberadaan militer secara ilegal di negara itu harus dibicarakan," kata Duta Besar Rusia Vassily Nebenzia kepada para wartawan, mengacu pada keberadaan pasukan Amerika Serikat di Suriah.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: