
Pantau - Ratusan orang menggelar unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Madrid, Spanyol, pada Minggu (4/1), sebagai bentuk protes terhadap operasi militer AS di Venezuela.
Aksi tersebut berlangsung damai namun penuh semangat, dengan peserta membawa bendera, meneriakkan slogan, dan menolak kebijakan luar negeri AS yang dinilai sarat intervensi serta tekanan terhadap negara lain.
Peserta aksi menyatakan kepada kantor berita RIA Novosti bahwa tindakan AS merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negeri negara berdaulat.
Orlando Salas, warga Venezuela yang telah tinggal di Spanyol selama enam tahun, mengungkapkan, "Apa yang terjadi di negara kami merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan campur tangan urusan dalam negeri negara berdaulat. Serangan AS akan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dibandingkan masalah yang mereka klaim ingin perbaiki."
Protes Diwarnai Kritik Politik dan Dukungan Lintas Negara
Unjuk rasa tersebut juga dihadiri oleh perwakilan partai politik sayap kiri Spanyol.
Ione Belarra, pemimpin partai Podemos, menyerukan agar pemerintah Spanyol dan lembaga Uni Eropa menanggapi situasi ini secara tegas serta meninjau kembali hubungan mereka dengan Amerika Serikat.
Eric Briceno, warga Kuba yang turut dalam aksi, menyatakan, "Ini bukan soal mendukung tokoh politik tertentu, melainkan soal penolakan terhadap tindakan kekerasan dan penangkapan lintas wilayah. Kami menentang tekanan militer dan mendukung hak setiap bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa campur tangan pihak luar."
Ia menambahkan bahwa kemarahan para demonstran tidak hanya terkait dengan Venezuela, tetapi juga terhadap peran AS dan NATO di kawasan Amerika Latin.
Briceno memperingatkan bahwa langkah militer AS ini dapat menjadi preseden berbahaya bagi negara-negara lain di kawasan tersebut.
Pihak kepolisian Spanyol memperkirakan jumlah peserta unjuk rasa mencapai beberapa ratus orang.
Pengamanan diperketat dengan kehadiran aparat dari Kepolisian Nasional dan Garda Sipil Spanyol yang berjaga di sekitar lokasi Kedubes AS.
Eskalasi Konflik Venezuela dan Reaksi Internasional
Unjuk rasa ini merupakan respons atas pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Sabtu sebelumnya, bahwa negaranya telah melancarkan operasi militer besar di Venezuela.
Dalam operasi tersebut, Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dilaporkan ditangkap dan dibawa keluar dari negaranya.
Media internasional melaporkan adanya ledakan di ibu kota Caracas, yang diduga terkait dengan operasi pasukan khusus Delta Force milik AS.
Harian The New York Times, mengutip pejabat tinggi Venezuela, melaporkan sedikitnya 40 orang tewas dalam operasi tersebut, termasuk personel militer dan warga sipil.
Pemerintah Venezuela menyatakan tidak mengetahui keberadaan Maduro dan menuntut bukti bahwa presiden mereka masih hidup.
Presiden Trump kemudian membagikan sebuah foto yang disebut-sebut menampilkan Maduro berada di atas kapal USS Iwo Jima.
Media AS juga menayangkan gambar pendaratan pesawat di Negara Bagian New York yang diklaim membawa Maduro dan istrinya di bawah pengawalan ketat aparat penegak hukum.
Sejumlah anggota Kongres AS mengecam operasi ini sebagai tindakan ilegal, namun pemerintah AS menegaskan bahwa Maduro akan diadili sesuai hukum yang berlaku.
Kementerian Luar Negeri Venezuela menyatakan akan mengajukan keberatan resmi ke berbagai organisasi internasional atas tindakan militer tersebut.
Venezuela juga meminta Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat pada 5 Januari untuk membahas krisis ini.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan dukungan penuh kepada Venezuela dan mengaku sangat prihatin atas laporan pemindahan paksa Maduro dan istrinya.
Rusia menuntut pembebasan segera Maduro dan Cilia Flores, serta mendesak dilakukannya langkah-langkah guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf









