
Pantau - Kelompok Hamas mengecam keras pelibatan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam Dewan Perdamaian untuk Gaza yang dibentuk dan dipimpin oleh Amerika Serikat, menyebutnya sebagai "indikator berbahaya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan dan akuntabilitas."
Hamas Tuduh Netanyahu Hambat Perdamaian
Dalam pernyataan resmi pada Kamis (22 Januari), Hamas menuduh Netanyahu telah berperan aktif dalam menghalangi tercapainya gencatan senjata di Gaza.
Selain itu, ia dituduh terus melakukan pelanggaran, menyerang warga sipil, dan merusak infrastruktur di wilayah Gaza, meskipun gencatan senjata telah berlaku selama lebih dari tiga bulan.
"Pendudukan merupakan akar dari terorisme," ungkap Hamas dalam pernyataan tersebut.
Kelompok tersebut juga menyatakan bahwa “langkah pertama untuk menuju stabilitas adalah dengan menghentikan pelanggaran-pelanggaran Israel dan mengakhiri pendudukan secara permanen,” tambahnya.
Dewan Perdamaian Diluncurkan di Davos, Dukungan Internasional Terbelah
Sebelumnya, pada Rabu (21 Januari), Netanyahu mengonfirmasi bahwa dirinya telah menerima undangan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk bergabung dalam inisiatif perdamaian tersebut.
Sehari setelahnya, Trump secara resmi meluncurkan Dewan Perdamaian dalam sebuah upacara penandatanganan piagam yang digelar di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos, Swiss.
Namun, peluncuran inisiatif itu tidak dihadiri oleh beberapa sekutu Eropa, memunculkan tanda tanya atas legitimasi dan efektivitas upaya perdamaian tersebut.
Sejumlah pengamat menyampaikan kekhawatiran bahwa inisiatif yang dipimpin AS ini berpotensi melemahkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mengganggu kerangka kerja multilateral yang selama ini menjadi dasar diplomasi perdamaian di Gaza.
Beberapa negara besar serta mitra tradisional AS dilaporkan telah menolak untuk ambil bagian dalam proyek perdamaian ini.
- Penulis :
- Arian Mesa







