
Pantau - Iran dilaporkan benar-benar menutup Selat Hormuz setelah pecah perang dengan Amerika Serikat dan sekutunya meskipun sebelumnya ancaman penutupan jalur strategis tersebut telah disampaikan sejak jauh hari sebelum serangan militer terjadi.
Amerika Serikat mengklaim kekuatan angkatan laut Iran telah dilemahkan sehingga dinilai tidak sepenuhnya mampu menutup jalur pelayaran tersebut.
Namun sejak pecahnya perang pada akhir pekan sebelumnya, sedikitnya empat kapal tanker dilaporkan terkena serangan drone Iran.
Akibat situasi tersebut lalu lintas kapal menuju kawasan Teluk Persia mengalami penurunan drastis.
Perusahaan pelacak data maritim Lloyds List Intelligence mencatat lalu lintas maritim menuju Teluk Persia turun sekitar 80 persen sejak 1 Maret.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian berjanji akan mengerahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk mengawal pelayaran komersial di kawasan tersebut.
Trump menyatakan "Jika perlu Angkatan Laut AS akan mengawal kapal kapal tanker yang melalui Selat Hormuz, secepatnya", ungkapnya.
Jalur Strategis Perdagangan Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menjadi pintu masuk menuju Teluk Persia.
Sekitar 20 juta barel minyak per hari dikirim melalui Selat Hormuz.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari total perdagangan minyak dunia.
Hampir seluruh ekspor minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab melewati jalur pelayaran tersebut.
Negara negara tersebut juga merupakan produsen energi penting dunia termasuk gas alam.
Selain negara negara tersebut, Qatar, Bahrain, dan Oman juga termasuk produsen gas besar di dunia.
Energi yang dikirim melalui Selat Hormuz dipasok ke berbagai pasar utama dunia.
Pasar energi tersebut meliputi India, Jepang, China, Eropa, dan Afrika.
Dampak Militer dan Ekonomi Global
Penutupan Selat Hormuz menimbulkan tantangan militer bagi negara negara yang bergantung pada jalur energi tersebut.
Selain itu langkah tersebut juga berpotensi menimbulkan dampak ekonomi global karena terganggunya pasokan energi dunia.
Kenaikan harga energi akibat konflik dengan Iran juga dinilai dapat menjadi ancaman politik bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik di Amerika Serikat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







