
Pantau - Total kerugian akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada akhir November 2025 diperkirakan mencapai Rp6,5 triliun.
Jumlah tersebut disampaikan oleh Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, dalam rapat koordinasi dan evaluasi penanganan tanggap darurat bencana alam yang digelar di aula utama kantor bupati Agam, Senin lalu.
"Total kerugian diperkirakan Rp6,5 triliun dan ini berdasarkan pendataan yang dilakukan Organisasi Perangkat Daerah (OPD)," ungkapnya.
Rahmat menjelaskan bahwa bencana alam tersebut berdampak besar terhadap aspek kemanusiaan dan infrastruktur di wilayah Agam.
Dampak Bencana: Ratusan Jiwa Tewas dan Ribuan Rumah Rusak
Bencana yang terjadi terdiri dari banjir bandang, tanah longsor, banjir biasa, dan angin puting beliung.
Akibat bencana tersebut, tercatat sebanyak 165 orang meninggal dunia dan 3.246 jiwa mengungsi.
Sebaran korban jiwa antara lain:
- Kecamatan Malalak: 16 orang.
- Kecamatan Matur: 1 orang.
- Kecamatan Tanjung Raya: 10 orang.
- Kecamatan Palupuh: 1 orang.
- Kecamatan Palembayan: 136 orang.
- Kecamatan Ampek Nagari: 1 orang.
Kerusakan infrastruktur yang tercatat meliputi:
- 1.729 rumah rusak berat, hanyut, atau terancam.
- 27 unit tempat ibadah rusak.
- 121 unit fasilitas pendidikan rusak.
- 40 jembatan mengalami kerusakan.
Kerusakan juga tercatat pada lahan pertanian, jalan, perkantoran, peternakan, dan fasilitas lainnya.
"Seluruh data kerusakan tersebut saat ini masih dalam tahap verifikasi dan validasi lapangan oleh tim teknis terkait," ia mengungkapkan.
Langkah Pemerintah: Prioritaskan Layanan Dasar dan Pembangunan Huntara
Meski berada dalam situasi bencana, Pemerintah Kabupaten Agam memastikan pelayanan dasar tetap menjadi prioritas utama.
Fokus utama mencakup sektor pendidikan, pemenuhan logistik, dan infrastruktur dasar bagi masyarakat terdampak.
Sebagai langkah lanjutan, Pemkab Agam tengah mempersiapkan pembangunan hunian sementara (huntara) di lima kecamatan, yakni:
- Palembayan.
- Ampek Koto.
- Malalak.
- Palupuh.
- Tanjung Raya.
Selain itu, guna mempercepat pembersihan material bencana dan pembukaan akses wilayah, pemerintah daerah membutuhkan setidaknya 63 unit alat berat, termasuk ekskavator dan dump truck.
- Penulis :
- Leon Weldrick








