Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Dinkes Kaltim Imbau Waspada Virus Nipah, Belum Ada Kasus di Indonesia Namun Risiko Tetap Ada

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Dinkes Kaltim Imbau Waspada Virus Nipah, Belum Ada Kasus di Indonesia Namun Risiko Tetap Ada
Foto: (Sumber: Kantor Dinas Kesehatan Kaltim di Samarinda. ANTARA/Ahmad Rifandi.)

Pantau - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan virus Nipah, patogen zoonosis yang ditularkan melalui hewan, khususnya kelelawar buah.

"Masyarakat harus waspada dengan mengurangi kontak langsung dengan kelelawar dan menghindari konsumsi buah-buahan yang sudah terkontaminasi air liur atau kotoran hewan tersebut," ujar Dinkes Kaltim.

Tingkat Kematian Tinggi, PHBS Jadi Kunci Pencegahan

Virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen.

Eryariyatin, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kaltim, menekankan pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah utama pencegahan.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk mencuci buah hingga benar-benar bersih sebelum dikonsumsi guna menghindari kontaminasi dari cairan hewan liar.

"Gejala awal yang perlu diwaspadai oleh masyarakat meliputi munculnya demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot, hingga gangguan pernapasan yang akut," jelas Eryariyatin.

Jika tidak ditangani cepat, pasien bisa mengalami komplikasi berat seperti disorientasi, kejang, hingga koma akibat peradangan otak atau ensefalitis yang berpotensi fatal.

Belum Ada Kasus di Indonesia, Tapi Deteksi Dini Tetap Penting

Dinkes Kaltim mengimbau masyarakat yang mengalami gejala-gejala tersebut, terutama setelah kontak dengan hewan liar, agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

"Langkah deteksi dini di puskesmas atau rumah sakit membantu petugas medis dalam melakukan penanganan cepat sebelum terjadi komplikasi neurologis yang lebih berat," tambahnya.

Hingga saat ini, belum ditemukan kasus virus Nipah di Kalimantan Timur maupun di wilayah lain di Indonesia.

Namun, kesiapsiagaan mandiri masyarakat tetap dianggap sebagai langkah pencegahan terbaik.

Pemerintah telah memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk wilayah, termasuk bandara dan pelabuhan, untuk memantau pergerakan orang dan barang yang berpotensi membawa agen penyakit dari luar negeri.

Langkah ini juga mengacu pada peringatan global dari WHO yang menetapkan Nipah sebagai salah satu penyakit prioritas dengan potensi memicu pandemi baru.

"Kerja sama antara masyarakat dan tenaga medis dalam melaporkan kejadian mencurigakan diharapkan mampu menjaga stabilitas kesehatan masyarakat di wilayah Kalimantan Timur secara berkelanjutan," tegas Dinkes.

Penulis :
Ahmad Yusuf