Pantau Flash
Bursa Saham Kawasan Naik, IHSG Menguat 15,07 Poin
Eijkman: Flu Babi Membawa Semua Gen yang Pernah Menimbulkan Pandemi
Sudah Ada 29.919 Orang di Indonesia yang Sembuh dari COVID-19
Nadiem Tegaskan Kebijakan: Belajar Merdeka Memiliki Daya Saing Kuat
Pratikno: Janagan Ribut Lagi Soal Reshuffle, Progres Kabinet Berjalan Bagus

Dalam Suasana Krisis, Ini 7 Poin Kemarahan Jokowi di Rapat Paripurna

Headline
Dalam Suasana Krisis, Ini 7 Poin Kemarahan Jokowi di Rapat Paripurna Presiden Joko Widodo tegas ingatkan para menteri dan jajarannya. (Foto: Antara)

Pantau.com - Presiden Joko Widodo merasa kesal sekali saat memimpin Rapat Siang Paripurna 18 Juni 2020. Itu terlihat dari raut wajah, kemarahan Jokowi begitu besar dan secara tegas memberikan arahan sampai adanya ancaman reshuffle.

Dalam rapat itu, Kepala Negara memberikan arahan mengenai suasana dalam tiga bulan ke belakang ini dan ke depan. Harusnya ada kepekaan di masa krisis akibat COVID-19.

"Mestinya yang ada, adalah suasana krisis. Kita juga mestinya yang hadir di sini bertanggung jawab kepada 260 juta penduduk Indonesia," ujar Presiden Jokowi dalam video akun YouTube Sekretariat Presiden, dinukil Senin (29/6/2020).

Baca juga: Presiden Jokowi Buka Opsi Reshuffle kepada Menteri yang Kerja Biasa Saja

Di hadapan seluruh menteri dan kepala lembaga, Presiden Jokowi tak ingin suasana kali ini terlihat normal atau biasa-biasanya. Sebab, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi.

Presiden Jokowi memiliki 7 poin kemarahan yang disampaikan dalam Rapat Paripurna. Berikut kalimat yang ditegaskan oleh Kepala Negara;

1. Ini tolong digarisbawahi, dan perasaan itu tolong kita sama. Ada sense of crisis yang sama.

2. Hati-hati, OECD terakhir 1-2 hari lalu menyampaikan bahwa growth pertumbuhan ekonomi dunia terkontraksi 6, bisa sampai ke 7,6 persen. 6-7,6 persen minusnya. Bank Dunia menyampaikan bisa minus 5 persen. Perasaan ini harus sama. Kita harus ngerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linear, jangan menganggap ini normal.

3. Bahaya sekali kita. Saya lihat masih banyak kita yang menganggap ini normal. Kalau saya lihat bapak ibu dan saudara-saudara masih melihat ini sebagai masih normal, berbahaya sekali.

Baca juga: Jokowi Tegas Meminta Masyarakat Gunakan Perasaan Soal Hal Ini

4. Kerja masih biasa-biasa saja. Ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa, extraordinary. Perasaan ini tolong sama. Kita harus sama perasaannya. Kalau ada yang berbeda satu saja, sudah berbahaya.

5. Jadi, tindakan-tindakan kita, keputusan-keputusan kita, kebijakan-kebijakan kita, suasananya harus suasana krisis. Jangan kebijakan yang biasa-biasa saja menganggap ini sebuah kenormalan. Apa-apaan ini?

Mestinya, suasana itu ada semuanya. Jangan memakai hal-hal yang standar pada suasana krisis. Manajemen krisis sudah berbeda semuanya mestinya. Kalau perlu kebijakan Perppu, ya perppu saya keluarkan. Kalau perlu perpres, ya perpres saya keluarkan. kalau sudah ada PMK, keluarkan.

6. Untuk menangani negara tanggung jawab kita kepada 267 juta rakyat kita. Saya lihat, masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja.

7. Saya jengkel di situ. Ini apa enggak punya perasaan. Suasana ini krisis. Kalau perlu kita bantu usaha-usaha mikro, jangan sampai mereka mati duluan baru kita bantu.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: