Pantau Flash
Seluruh Kecamatan di Kota Medan Masuk Zona Merah COVID-19
PSBB Bodebek Kembali Diperpanjang hingga 2 Juli 2020
Nihil Kasus Baru di 6 Provinsi, Positif COVID-19 di Indonesia 29.521 Kasus
PSBB di Kota Bekasi Diperpanjang hingga 2 Juli 2020
PSBB Masa Transisi, Gojek: Driver Dapat Layani Penumpang 8 Juni

Pakar yang Pernah Terkena COVID-19 Beberkan Hal Tak Terduga Gejala Ringan

Pakar yang Pernah Terkena COVID-19 Beberkan Hal Tak Terduga Gejala Ringan Paul Garner ahli penyakit menular sudah pernah terkena malaria dan yang lain, dan sekarang juga mengalami terkena COVID-19. (Foto: Paul Garner via ABC News)

Pantau.com - Sebagai seorang ahli penyakit menular dan penderita COVID-19, Paul Garner dari Sekolah Kedokteran Penyakit Tropis di Liverpool di Inggris paham sekali seberapa tidak nyamannya hidup dengan penyakit apapun.

"[COVID-19] adalah penyakit terburuk yang pernah saya alami," kata Paul, seperti dilansir dari ABC News, Rabu (20/5/2020).

“Saya pernah menderita demam berdarah. Pernah juga malaria. Tapi tidak pernah sesakit ini. [Penyakit] ini juga menakutkan karena sifatnya tidak bisa diprediksi.”

Gejala Ringan COVID-19
1. Banyak pasien yang terkena COVID-19 merasakan dampaknya selama berminggu-minggu
2. Beberapa dari pasien tersebut merasa sangat lelah
3. RS St Vincent's di Sydney sedang melakukan penelitian berdurasi satu tahun mengenai dampak virus tersebut
Paul yang sedang menjalani masa perawatan setelah didiagnosa terjangkit virus corona 59 hari yang lalu tersebut mengatakan penyakit ini datang di saat yang paling tidak terduga.

"Saya merasa enak badan, tapi tiba-tiba di siang hari penyakit ini seolah menghantam kepala saya dengan tongkat bisbol," katanya.

"Durasi penyakit ini benar-benar melumpuhkan saya. Saya hanya bisa berdoa suatu saat penyakit ini akan pergi dengan sendirinya."

Professor Paul mengatakan penyakit tersebut menimbulkan gejala yang mirip dengan sindrom kelelahan kronis, namun belum yakin 100 persen. "Kalau yang sudah pernah mengalami, pasti mengerti maksud sindrom kelelahan karena COVID," kata dia.

"Sekarang saya mengerti perasaan orang-orang yang mengalami sindrom kelelahan kronis dan bisa bersimpati dengan mereka."

Baca juga: Kabar Baik: 44 WNI di Singapura Telah Sembuh dari Covid-19

Pasien yang dinyatakan sembuh merasa lelah dan sesak napas

Professor Paul adalah satu dari ribuan pasien COVID-19 yang memahami seberapa melelahkannya hidup dengan penyakit tersebut.

Ilmuwan yang hingga kini masih meneliti dampak jangka panjang yang ditimbulkan COVID-19, khawatir penyakit tersebut menimbulkan kerusakan parah pada organ tubuh penderita.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa proses penyembuhan COVID-19 bervariasi — mulai dari dua minggu hingga enam minggu, bagi kasus yang parah. Namun, penderita COVID-19, baik yang tidak parah sekalipun, tetap akan merasa lelah dan sesak napas ketika sudah berada di tahap pemulihan.

Dampak jangka panjang COVID-19 salah satunya diteliti oleh dokter ahli penyakit menular di St Vincent Hospital Sydney Professor Greg Dore.

"Kami tertarik untuk meneliti efek dari COVID-19. Penyakit ini memiliki spektrum gejala yang luas — dari gangguan pernapasan yang relatif ringan hingga pneumonia yang sangat parah."

Professor Greg sedang meneliti dampak COVID-19 termasuk dalam kasus tidak parah, dengan memperhatikan beberapa faktor seperti ketahanan penderita berolahraga, fungsi koordinasi, dan kemampuan berkonsentrasi.

'Tidak lagi bugar'


Alex Lewis sampai sekarang merasa belum bugar lagi setelah terkena COVID-19 pertengahan Maret lalu. (Foto: ABC News/Jerry Rickard)

Salah satu pasien yang menjadi contoh kasus dalam penelitian di rumah sakit tersebut adalah Alex Lewis, yang ditemui ABC pertengahan Maret, setelah dinyatakan positif COVID-19.

Dua bulan setelah dinyatakan sembuh, Alexis masih mengalami kesulitan. "Saya sebelumnya cukup bugar, namun sekarang tidak lagi. Kondisi pernapasan saya terus memburuk dan berolahraga terasa lebih sulit," katanya. "Butuh beberapa waktu sembuh. Rasa lelah datang dan pergi."

Baca juga: Donald Trump Menilai Upaya WHO Tangani COVID-19 'Sangat Buruk'

Komunitas online pasien COVID-19 dari seluruh dunia


Fiona Lowenstein juga mengalami COVID-19 walau gejala awalnya ringan. (Foto: Instagram/Fiona Lowenstein)

Dampak jangka panjang dari COVID-19 dirasakan pasien yang sudah dinyatakan sembuh di seluruh dunia. Fiona Lowenstein, penulis dari Amerika Serikat yang didiagnosa terkena COVID-19 pertengahan Maret lalu merupakan salah satu yang turut merasakan.

"Proses pemulihannya lama sekali dan saya tidak menyangka akan demikian," kata Fiona.

Karena terbatasnya informasi mengenai situasi yang ia alami, Fiona mendirikan sebuah kelompok beranggotakan ribuan mantan pasien COVID-19 untuk mendukung satu sama lain.

Anggota kelompok ini juga merasakan kelelahan dan perasaan tidak enak badan setelah dinyatakan sembuh. "Saya pikir saya sudah sembuh total beberapa minggu lalu, tapi gejala lama itu malah kembali, ditambah rasa panas dingin dan keringat, juga kelelahan yang sangat intens," katanya.

"Rasanya seperti ditabrak truk setiap jam 4 subuh."

Pengalaman tersebut menjadi dasar dari dibentuknya kelompok di media sosial yang sangat aktif tersebut. "Jelas sekali bagi saya, perlu ada sebuah komunitas bagi penderita virus ini agar kita bisa berbagi pengalaman satu sama lain," kata dia.

"Kotak surat saya (di media sosial) dibanjiri pesan masuk."

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: