Pantau Flash
Gedung Putih Pastikan Pilpres AS Tetap Digelar 3 November 2020
Ombudsman Soal Ganjil Genap: Waspadai Klaster Transportasi Publik
BPS: Inflasi Tahunan yang Terendah Sejak Mei 2000
Gibran Kantongi Dukungan Penuh Prabowo Subianto di Pilkada Solo
Update COVID-19 RI per 3 Agustus: 1.679 Kasus Baru, Total Positif 113.134

Ada Tudingan Dokter Ditekan Kepala Daerah untuk Kurangi Tes PCR, Benarkah?

Headline
Ada Tudingan Dokter Ditekan Kepala Daerah untuk Kurangi Tes PCR, Benarkah? Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Salah seorang anggota Koalisi Warga untuk Laporcovid-19 memberikan kabar mengejutkan di tengah pandemi korona seperti saat ini. Menurut Ahmad Arif, dalam salah satu cuitannya di media sosial Twitter, ada sejumlah dokter atau tenaga medis yang ditekan oleh kepala daerah untuk mengurangi tes PCR. Hal ini dilakukan agar jumlah kasus positif di daerah tersebut tidak bertambah.

"Lapor COVID-19 mendapat informasi dari sejumlah dokter yang ditekan kepala daerah agar mengurangi tes PCR dan hanya memakai tes cepat antibodi agar kasus positif di daerah tidak bertambah. Daerah itu meliputi Nusa Tenggara Barat, serta Lamongan dan Kediri, Jawa Timur," tulis Ahmad Arif di akun Twitternya, pada Jumat, 3 Juli 2020.


Arif dalam cuitannya melanjutkan, dengan melihat kondisi saat ini, pemerintah sebaiknya meninjau ulang penggunaan tes cepat dengan antibodi yang rentan disalahpahami dan disalahgunakan.

"Satu lagi, pemerintah seharusnya membuka jumlah tes PCR secara harian di tiap daerah sehingga bisa menjadi ukuran kinerja. Jika data jumlah tes PCR ini tidak dibuka, bisa jadi daerah yang dinyatakan minim kasusnya bahkan disebut sebagai zona hijau, karena tesnya kurang," lanjut Arif. 

Laporan itu pun disanggah oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan. Melalui Kepala Dinas Kesehatan Lamongan Taufiq Hidayat, secara tegas pihaknya membantah adanya tudingan tersebut. Ia mengatakan, penekanan angka pasien COVID-19 dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, bukanlah mengurangi tes PCR. 

"Tidak benar, saat ini dalam pengendalian penularan Covid-19 di Lamongan konsentrasi dan penekanan pada bagaimana supaya masyarakat menjadi patut terhadap protokol kesehatan,” ujar Taufiq seperti dilansir dari Suara.com.

Baca juga: COVID-19 Belum Selesai, Kini Teror Flu Babi di China Bakal Jadi Pandemi?

Namun, ia menambahkan, dalam beberapa hari terakhir, ada keterlambatan pengiriman PCR ke Provinsi Jawa Timur. Hal itu pun membuat pihaknya akan mengoperasikan alat tes PCR secara mandiri, tanpa perlu kirim ke Surabaya. 

Saat ini, rumah sakit yang akan difasilitasi alat tes PCR adalah RSUD Soegiri. Pihaknya pun berharap, dengan memiliki alat tes sendiri bisa cepat mendeteksi penyebaran kasus COVID-19.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kediri dr Ahmad Chotib turut membantah adanya kabar tersebut. Menurutnya, sama sekali tidak ada penekanan dari Pemkab Kediri terhadap pihaknya untuk mengurangi tes PCR.

"Di tempat saya enggak. Dokter se-kabupaten ada banyak, tidak ada yang melaporkan ke saya," ujarnya.

PCR atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus korona.

Baca juga: Mencari 'Jalan Tikus' dari Efek Kejut Si COVID-19

Jenis pemeriksaan ini menggunakan sampel usapan lendir dari hidung atau tenggorokan. Lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus bereplikasi.

Virus yang aktif memiliki material genetika yang bisa berupa DNA maupun RNA. Pada virus corona, material genetiknya adalah RNA. Nah, RNA inilah yang diamplifikasi dengan RT-PCR sehingga bisa dideteksi.

Pemeriksaan PCR jelas membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasil karena hanya dapat dilakukan di laboratorium yang sudah ditunjuk pemerintah.

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: