Pantau Flash
BPS: Neraca Perdagangan November 2019 Defisit 1,33 Miliar Dolar AS
Presiden Jokowi Teken PP Penyediaan Tenaga Teknis di Perdagangan Jasa
Rupiah Melemah Jelang Perilisan Data Neraca Perdagangan
Menteri Edhy: Perizinan Kapal Tangkap Ikan Akan Selesai 1 Jam
MUI Akan Gelar Ijtima 3000 Ulama di Bogor

Bulog Targetkan Penjualan Komersial Bertambah 50 Persen di 2020

Bulog Targetkan Penjualan Komersial Bertambah 50 Persen di 2020 Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso. (Foto: Antara)

Pantau.com - Perum Bulog menyatakan akan memperkuat perannya sebagai BUMN pangan dengan memperbesar porsi penjualan beras secara komersial untuk penugasan pada tahun 2020.

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, menjelaskan saat ini porsi penjualan beras untuk komersial sebesar 20 persen, sementara beras untuk penugasan pemerintah sebesar 80 persen. Pada 2020 mendatang, Bulog ingin porsi untuk penjualan beras komersial bertambah menjadi 50 persen.

"Tahun depan keinginan saya bisa 50:50 karena kita kan dananya dari komersial. Kalau kita gunakan komersial 50 persen, paling tidak berarti Bulog bisa mendapatkan keuntungan. Kalau hanya 20 persen komersial, itu terlalu kecil untuk membiayai operasional Bulog," kata Budi Waseso pada konferensi pers di Gedung Bulog Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Baca juga: Pemerintah Punya Utang ke Bulog Rp39 Miliar

Pria yang akrab disapa Buwas itu menjelaskan, strategi Bulog untuk memperkuat bisnis komersial ini sejalan dengan berkurangnya penugasan dari pemerintah dalam penyediaan beras bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Selain itu, Bulog juga bisa memperoleh keuntungan dan mencicil pembayaran utang perusahaan. Terhitung hingga September 2019, Bulog masih memiliki utang atau pinjaman yang diselesaikan sebesar Rp28 triliun untuk pengadaan sejumlah komoditas, termasuk beras.

Menurut Buwas, pengadaan beras CBP (cadangan beras pemerintah) yang menggunakan dana pinjaman dari bank menjadi alasan beban utang perusahaan terus bertambah. Di sisi lain, Bulog tidak lagi menyalurkan beras Rastra dan tidak melakukan kegiatan operasi pasar, karena penjualan beras CBP harus melalui keputusan rakortas. Akibatnya, stok beras Bulog tidak bergeser, namun bunga pinjaman tetap berjalan.

"Bulog tidak bisa dihindari dengan utang karena memang Bulog membeli beras, baik CBP maupun komersial kita pinjam uang dari bank, bunganya pun komersial. Kalau komersial tidak masalah, karena terus kita jua. Yang masalah beras CBP," kata Buwas.

Baca juga: 20.000 Ton Stok Beras Bakal Dimusnahkan, Bulog Tuntut Sri Mulyani

Perum Bulog pun terus melakukan sejumlah inovasi bisnis, beberapa di antaranya yakni memodernisasi gudang beras yang dimilikinya secara bertahap di seluruh Indonesia, memproduksi beras bervitamin (berfortifikasi) dan terakhir merambah bisnis e-commerce dengan meluncurkan toko pangan online "panganandotcom".

Sejumlah kerja sama bisnis dengan berbagai BUMN dan pihak swasta Iainnya telah dilakukan seperti penyediaan natura karyawan BNI dan BRI, penjualan sembako ke Grab Kios serta sinergi bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dalam memasok beras ke ritel modern.

Mantan Kepala BNN itu menyatakan, Perum Bulog juga memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp2 triliun untuk mendukung penguatan komersial seperti pembangunan CAS (Control Atmosphere Storage), gudang modern kedelai, dan gudang modern beras. tahun depan rencananya akan dilakukan pembangunan CDC (Corn Drying Center), serta MRMP (Modern Rice Milling Plan).A

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Tatang Adhiwidharta
Category
Ekonomi

Berita Terkait: