Forgot Password Register

China Larang Lebih dari 6.000 Lagu Karaoke, Ini Alasannya

China Larang Lebih dari 6.000 Lagu Karaoke, Ini Alasannya Ilustrasi karaoke. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Pemerintah China telah melarang lebih dari 6.000 lagu karaoke, hal tersebut menghebohkan media sosial di kalangan penggemar karaoke di negara itu.

Bisnis karaoke KTV diperintahkan oleh Asosiasi Hak Cipta Audio-Video China (CAVCA) yang disponsori pemerintah untuk menghapus lagu-lagu tersebut pada 31 Oktober. Hal ini merupakan sebuah langkah yang diklaim sebagai tindakan keras terhadap pelanggaran hak cipta.

Sebanyak 6.609 lagu terdaftar yang dilarang mencakup banyak judul dari artis populer Hong Kong dan Taiwan seperti Eason Chan, GEM, dan A-Mei.

Banyak dari lagu-lagu yang terdaftar awalnya berasal dari tahun 1990-an dan awal 2000-an, dan merupakan versi gubahan atau alternatif yang CAVCA anggap melanggar undang-undang hak cipta.

Menurut pernyataan dari CAVCA, yang mengelola konten audio-visual di China dengan persetujuan Administrasi Hak Cipta Nasional China (NCAC). badan tersebut telah menangani ribuan kasus dugaan pelanggaran hak cipta untuk bisnis yang terdaftar sebagai tempat karaoke tahun lalu.

"Untuk mengurangi risiko hukum dari tempat-tempat yang dilisensikan oleh asosiasi kami, dan mempromosikan penyebaran luas video musik yang sah di tempat-tempat karaoke," menurut pernyataan CAVCA, seperti dikutip ABC, Kamis (8/11/2018).

Jika sebuah tempat karaoke terus menyediakan lagu terlarang, pemilik akan menanggung konsekuensi hukum dari keputusannya, jika pemegang hak cipta memutuskan untuk melakukan tindakan.

Sementara itu, CAVCA mengklaim larangan tersebut semata-mata tentang pelanggaran hak cipta, beberapa artis yang terdaftar memegang hak cipta atas karya mereka, memicu pengguna media sosial menyimpulkan beberapa lagu mungkin telah menjadi korban dari perluasan sensor Beijing.

Seorang pengguna Weibo mempertanyakan apakah CAVCA merupakan asosiasi musik atau mafia, sementara yang lain menyatakan di masa depan pecinta karaoke hanya akan dapat menyanyikan lagu-lagu patriotik seperti Love my China (mencintai china-ku) atau Forever Follow the Party (selamanya setia kepada Partai).

Baca juga: China Keluarkan Larangan Membawa Anjing Peliharaan saat Jalan-jalan, Ini Penyebabnya

Ungkapan kekesalan

KTV sangat populer di China dan sebagian besar penyedia jasa itu menawarkan antara 30.000 hingga 50.000 lagu, menurut harian South China Morning Post.

Akibatnya, melarang sejumlah besar lagu populer dari tempat-tempat KTV menimbulkan reaksi keras di media sosial Tiongkok dari penggemar karaoke, dengan lebih dari 360 juta orang membaca ceritanya di Sina Weibo.

"Ini adalah lagu yang paling banyak diminta setiap kali saya pergi ke KTV dalam satu dekade terakhir," unggah pengguna Weibo, Feng Shaonian.

"Lebih dari 6.000 lagu dilarang dari KTV, karena itu saya akan menyanyi secara acapella di tempat-tempat KTV di masa mendatang," kata pengguna Weibo, Laogaodianshangquanzi.

Namun, di antara mereka yang terkejut, ada beberapa yang melihat langkah itu sebagai langkah penting dalam meningkatkan perlindungan hak cipta di China.

"Perlindungan hak cipta sedang tren sekarang ini. Hak cipta musisi harus dilindungi," kata pengguna Weibo, Feng Qingyang.

Baca juga: Nah Lho, Ternyata Pembayaran Alipay dan WeChat Belum Legal Lho

Reputasi China

CAVCA sebelumnya memiliki masalah dengan penyensoran, langkah pertamanya setelah didirikan pada 2006 adalah memperketat industri karaoke dengan menghapus lagu yang dianggap tidak sehat atau kontroversial dari daftar putar yang diizinkan.

Salah satu artis yang dilarang, yakni A-Mei, yang sering disebut sebagai Madonna dari Taiwan, sebelumnya menghadapi penyensoran pada tahun 2000 ketika ia dilarang tampil di China setelah menyanyikan lagu kebangsaan Taiwan pada upacara pelantikan Presiden Chen Shui- bian.

China, yang telah memiliki reputasi sebagai tempat berlindung bagi pembajakan konten karena undang-undang yang longgar. Saat ini China  semakin berupaya untuk memperketat pembatasan hak ciptanya.

Ada 14 kampanye pemerintah untuk memerangi pembajakan sejak tahun 2005, menurut harian South China Morning Post.

Langkah terbaru ini muncul setelah pelarangan konten daring bajakan bulan lalu, dengan kampanye pemerintah terbaru, Internet Sword 2018 dirancang untuk fokus pada 3.000 situs yang diyakini melanggar undang-undang hak cipta.

Baca juga: Wow, China Berlakukan Sistem Pengawasan Berbasis Pengenalan Gaya Berjalan

Share :
Komentar :

Terkait

Read More