Pantau Flash
Presiden Jokowi Bertemu Pimpinan MPR Bahas Teknis pelantikan
KPK Amankan Uang Rp200 Juta Terkait OTT Wali Kota Medan
Hingga Agustus 2019, BPJS Telah Digunakan Sebanyak 277,9 Juta Kali
Kevin/Marcus Melaju Mulus ke Babak Kedua Denmark Open 2019
Vettel Akui Mercedes Begitu Sempurna Musim Ini

Duh! Gara-gara Rokok, Jokowi Kena 'Catatan' Deh

Duh! Gara-gara Rokok, Jokowi Kena 'Catatan' Deh Presiden Joko Widodo (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Kalian masih ingat bagaimana organisasi mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memberikan kartu kuning kepada Presiden Joko Widodo? 

Kali ini giliran, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang memberikan catatan tentang Indonesia masih tertinggal dalam segi pengendalian tembakau. Pasalnya hingga saat ini Indonesia belum mengadopsi kebijakan internasional terkait Framework Convention on Tobacco Control (FTCT) atau Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau. 

"Indonesia masih tertinggal karena sampai detik ini Indonesia belum meratifikasi FCTC yang saat ini sudah diratifikasi 90 persen,  anggota WHO atau 198 anggota WHO di seluruh dunia," kata Ketua YLKI Tulus Abadi, saat jumpa pers di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (11/1/2019).

Baca juga: 4 Negara Ini Tak Pungut Pajak, Rakyatnya Terkenal Paling Tajir di Dunia

Hal ini dinilai menjadi sebuah paradoks, pasalnya Indonesia merupakan satu-satunya negara penghasil tembakau dengan angka yang tinggi dan tidak meratifikasi FCTC tersebut.

"Indonesia menjadi satu-satunya negara besar penghasil tembakau yang blm meratifikasi, ini menjadi paradox yang serius karena seluruh dunia sudah dan hanya beberapa negara kecil di Afrika yang kita sebut mungkin tidak kenal, ada negara-negara yang sangat kecil belum melakukan ratifikasi tapi dia bukan negara penghasil tembakau besar sepeti Indonesia," paparnya.

"Jadi Indonesia satu-satunya penghasil tembakau terbesar dunia yang belum meratifikasinya," ungkapnya.

Baca juga: 87 Persen Millennials (Rencana) Beli Rumah, Sisanya ke Mana?

Lebih lanjut pihaknya menyesalkan sebab, pada era pemerintahan Jokowi-JK hingga memasuki 5 tahun pemerintahannya bergeming soal hal ini. 

"Ini sungguh kita sesalkan sebetulnya kita berharap pada era Jokowi bisa melakukan ini ternyata, sampai tahun ke-5 bergeming. Presiden Jokowi tidak melakukan apapun," ungkapnya.

Terkait hal ini, Indonesia juga memasuki zona merah soal kebijakan pengendalian Tembakau.

"Indonesia masuk zona merah, maka Indonesia masuk yang paling buruk dalam strata pengendalian tembakau pada strata internasional ini tidak ada perubahan saat Presiden Jokowi menjadi presiden," katanya. 

Baca juga: Kebijakan Jokowi-JK Kena 'Sempot' Lembaga Konsumen

Sebelumnya, YLKI juga mengkritisi kebijakan pemerintahan Jokowi-JK yang memutuskan untuk tak menaikkan cukai rokok pada tahun 2018-2019.

Ketua YLKI, Tulus Abadi menilai hal ini sangat tragis pasalnya baru pertama kali dalam sejarah kenaikkan cukai tidak dilakukan oleh presiden. 

"Lebih tragis lagi 2018-2019 Presiden Jokowi memutuskan untuk tidak menaikkan cukai ini kebijakan paling fatal, karena hanya presiden Jokowi yang tidak naikkan cukai, ini baru terjadi dalam sejarah masalah cukai itu presiden tidak naikkan cukai 2018-2019," ujarnya dalam jumpa pers yang digelar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: