Forgot Password Register

Imbas Pembantaian 60 Warga Palestina di Perbatasan Gaza, Turki Usir Dubes Israel

Imbas Pembantaian 60 Warga Palestina di Perbatasan Gaza, Turki Usir Dubes Israel Unjuk rasa di Perbatasan Gaza. (Foto: Reuters/Ibraheem Abu Mustafa)

Pantau.com - Turki mengusir duta besar Israel, Selasa (15 Mei 2018) waktu setempat. Hal tersebut tentu berkaitan dengan pembantaian negara besutan Benjamin Netanyahu itu terhadap demonstran Palestina di Perbatasan Gaza.

"Duta Besar Israel diberitahu bahwa utusan kami untuk Israel dipanggil kembali untuk konsultasi dan diberitahu bahwa akan lebih baik baginya untuk kembali ke negaranya untuk beberapa waktu," kata sumber Kementerian Luar Negeri Turki.

Hingga kini 60 warga Palestina meregang nyawa setelah ditembak sniper Israel lantaran menolak pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump.

Baca juga: Korban Tewas Warga Palestina di Perbatasan Gaza Jadi 60 Orang

Presiden Tayyip Erdogan menyebut pertumpahan darah di Perbatasan Gaza merupakan yang terparah sejak 2014 lalu. 

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan di Twitter bahwa Erdogan tidak dalam posisi untuk mengajarkan moralitas kepada mereka, karena dia mendukung gerakan Islamis Palestina Hamas yang memerintah Gaza.

"Tidak ada keraguan bahwa dia memahami terorisme dan pembantaian," kata Netanyahu.

Erdogan mencuit kembali bahwa Netanyahu adalah pemimpin negara apartheid yang telah menduduki tanah rakyat yang tidak berdaya selama 60 tahun lebih. Menurutnya, hal itu melanggar resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Baca juga: Soal Pembantaian Warga Palestina di Gaza, PBB Kecam Aksi Israel

"Ingin pelajaran dalam kemanusiaan? Baca Sepuluh Perintah Tuhan," tambahnya.

Juru bicara pemerintah Bekir Bozdag mengatakan kepada parlemen bahwa Turki menganggap Amerika Serikat sama-sama bertanggung jawab atas kejatahan perang itu.

"Darah orang-orang Palestina yang tidak bersalah ada di tangan Amerika Serikat," katanya,

"Amerika Serikat adalah bagian dari masalah, bukan solusi."

Share :
Komentar :

Terkait

Read More