Forgot Password Register

Pesawat Pembom China Mendarat di Laut Konflik, Filipina Ambil Langkah Diplomatik

Pesawat China C-6K pembawa bom. (Foto: Reuters) Pesawat China C-6K pembawa bom. (Foto: Reuters)

Pantau.com -  Kementerian Luar Negeri Filipina akan segera mengambil tindakan diplomatik untuk menegaskan pengakuannya di Laut Cina Selatan setelah pesawat pembom China mendarat di pulau dan terumbu karang di wilayah bersengketa

"Kami mengambil tindakan diplomatik, yang tepat yang diperlukan, untuk melindungi pengakuan kami dan akan terus melakukannya pada masa depan," katanya dalam pernyataan.

"Kami menegaskan tekad melindungi setiap jengkal wilayah kami yang memiliki hak berdaulat atas kami," kata pernyataan itu.

Angkatan Udara China mengatakan pembom, seperti H-6K, mendarat dan lepas landas dari kepulauan dan terumbu karang di Laut Cina Selatan sebagai bagian dari pelatihan angkatan militernya.

Baca juga: Korea Selatan Pede Pertemuan Trump-Kim 12 Juni Mendatang Akan Terealisasi

Seperti diketahui, aksi tersebut memicu kemarahan anggota oposisi parlemen di Manila. Amerika Serikat juga mengirim kapal ke wilayah bersengketa itu.

Namun, kementerian luar negeri tidak mau mengutuk tindakan China, yang menurut Washington dapat meningkatkan ketegangan dan mengguncang kawasan itu.

China mengklaim hampir seluruh Laut Cina Selatan, jalur air strategis di mana komoditas yang bernilai sekitar tiga triliun dolar AS melewati setiap jalur laut itu tiap tahun. Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga memiliki klaim yang saling bertentangan di wilayah tersebut.

Baca juga: Nicolas Maduro Kembali Terpilih sebagai Presiden Venezuela

China membangun tujuh pulau buatan di Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan dan mengubahnya menjadi pos-pos militer dengan lapangan terbang, radar, dan pertahanan peluru kendali.

Anggota parlemen Filipina mengkritik Presiden Rodrigo Duterte karena tidak mengkonfrontasi China dan memilih untuk memenangkan persahabatan dengan China, meskipun ada keputusan yang menguntungkan yang diterima Manila atas perairan yang dipersengketakan dari pengadilan arbitrase di Den Haag pada tahun 2016.

Duterte tidak akan mengambil jalan bentrokan dengan China dan menegaskan keterbukaannya untuk melakukan penjajakan dan pengembangan bersama di perairan itu, yang diyakini kaya akan minyak dan gas alam.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More