Forgot Password Register

Sempat di Puncak Kesukseskan, Starup Ini Akhirnya Terpuruk

Ilustrasi Belanja Online (Foto:Pantau.com/Fery Heryadi) Ilustrasi Belanja Online (Foto:Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Selama ini kita sudah mendengar banyak starup yang bongkar pasang semua manajemen atau tampilan agar tetap bertahan. Tetapi rupanya upaya itu tidak membuat perusahaan bernafas lega. Pasalnya beberapa kasus justru membuat mereka akhirnya gulung tikar.

1. Friendster

Generasi 90an pasti tahu sosial media yang kemunculannya hancur setelah kemunculan facebook. Friendster akhirnya bangkrut karena tak kuat bertarung dengan facebook.

Di masa suksesnya, Friendster memiliki 115 juta pengguna terdaftar dan mendapat penawaran akuisisi yang cukup tinggi dari Google, yaitu senilai USD 30 juta (sekitar Rp 400 miliar). Bahkan, perusahaan ini juga punya banyak investor, antara lain KPCB dan Co-Founder LinkedIn, Reid Hoffman.

Baca juga: Klarifikasi Soal Rekaman Fee, Rini Seret Nama Wapres

Kehancuran ini rupanya bermula dari sang Founder Friendster, Jonathan Abrams, berencana untuk membuat news feed, grafik sosial, dan sebuah aplikasi untuk melengkapi jejaring sosial ini. Ia ingin menarik perhatian pengguna di tingkat universitas untuk menghadang kepopuleran Facebook di kalangan anak muda.

Namun tantangan teknologi memperlambat langkah perusahaan ini. Mashable menulis bahwa "Investor tidak berfokus pada pengembangan Friendster ke arah yang benar, apalagi menanggapi ancaman yang dibuat oleh nama baru seperti Facebook.”

Baca juga: Siap-siap! Perusahaan Rela Gaji Mahal Lulusan Bahasa Ini

Situsnya menjadi sangat buruk, hingga pengguna kesulitan untuk masuk ke dalam situs ini selama dua tahun dan memiliki waktu loading yang sangat lama. Mereka gagal membangun infrastruktur yang bisa mengimbangi jumlah pengguna dan traffic yang mereka miliki, serta memberikan peluang bagi kompetitor seperti MySpace dan Facebook untuk mengejar.

Sebelum akhirnya mati, Friendster memang masih sempat hidup, tapi tidak dalam bentuk yang dulu sempat terkenal. Situs ini diakuisisi oleh layanan pembayaran online asal Malaysia, MOL, di tahun 2009 dengan nilai yang menurut rumor adalah $100 juta (sekitar Rp1,3 triliun). Situs ini kemudian berubah menjadi satu dari banyak situs portal game di internet.


Share :
Komentar :

Terkait

Read More