
Pantau - Analis pasar modal dan founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyatakan bahwa ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di awal tahun 2026.
Geopolitik Dorong Risiko Pasar dan Kenaikan Harga Minyak
Konflik antara AS dan Venezuela, menyusul penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh otoritas AS, telah meningkatkan ketegangan global dan memperbesar persepsi risiko investor.
"Isu penangkapan Presiden Venezuela oleh otoritas AS meningkatkan ketegangan geopolitik dan langsung berdampak pada persepsi risiko global," ungkap Hendra.
Venezuela diketahui sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sehingga konflik ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Akibatnya, harga minyak cenderung volatile dan menguat dalam jangka pendek, yang memberi dampak langsung pada saham-saham sektor energi dan komoditas.
Namun, di sisi lain, hal ini juga mendorong investor global bersikap hati-hati dan menahan diri, terutama investor asing, karena meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian global.
IHSG Menguat, Tapi Waspadai Area Support
Di tengah ketegangan global, IHSG pada penutupan perdagangan Jumat (2 Januari 2026) ditutup menguat 101,19 poin atau 1,17 persen ke level 8.748,13.
Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 3.127.022 kali, dengan volume 51,14 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp22,26 triliun.
Sebanyak 479 saham menguat, 200 saham turun, dan 131 saham stagnan.
Hendra memperkirakan IHSG akan menguji area support penting di 8.642–8.672 pada perdagangan Senin (5 Januari), dan menyebut area tersebut sebagai indikator kekuatan pasar jangka pendek.
"Selama area support 8.642–8.672 mampu bertahan, peluang IHSG untuk kembali menguji level tertinggi sepanjang masa di 8.777 tetap terbuka," ujarnya.
Potensi Jangka Panjang Masih Kuat
Meski jangka pendek akan diwarnai volatilitas akibat ketegangan geopolitik, struktur pasar domestik dinilai cukup tangguh.
Hendra menilai bahwa kombinasi sentimen global dan domestik membuat IHSG berada dalam fase konsolidasi sehat, dengan outlook tetap konstruktif.
Ia menyebut bahwa proyeksi IHSG untuk menembus level 10.000 di akhir 2026 masih realistis, dengan catatan dukungan fundamental tetap kuat.
"Awal 2026 dibuka dengan sentimen positif, tercermin dari penguatan IHSG lebih dari 1 persen pada hari perdagangan pertama, menandakan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional masih cukup solid," tambahnya.
Faktor-faktor seperti pertumbuhan laba emiten, stabilitas inflasi, nilai tukar rupiah yang terjaga, arus dana asing yang masuk kembali, serta berlanjutnya IPO berkualitas akan menjadi penggerak utama indeks sepanjang tahun.
Dalam kondisi saat ini, Hendra menyarankan strategi selektif dengan memanfaatkan koreksi sebagai peluang akumulasi maupun trading terbatas.
- Penulis :
- Gerry Eka









