
Pantau - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mendorong peralihan hubungan industrial di Indonesia dari pola negative-sum game ke arah positive-sum game guna menciptakan ekosistem kerja yang lebih produktif, sejahtera, dan kompetitif.
Hubungan Kolaboratif Jadi Kunci Tumbuh Bersama
Menurut Yassierli, pola negative-sum game menggambarkan hubungan kerja yang tidak sehat, seperti mogok kerja berkepanjangan atau efisiensi ekstrem oleh perusahaan yang justru merusak kepercayaan pekerja.
Kondisi semacam itu dinilai merugikan kedua belah pihak dan menurunkan produktivitas.
Sebaliknya, pola positive-sum game mendorong relasi kerja yang bersifat kolaboratif, di mana pengusaha dan pekerja sama-sama diuntungkan melalui peningkatan kesejahteraan dan produktivitas.
Menaker menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya menjamin pemenuhan kebutuhan dasar pekerja, tetapi juga mengajak semua pihak untuk turut meningkatkan kualitas tenaga kerja nasional.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem kerja yang kolaboratif dan berkelanjutan, di mana perusahaan dapat tumbuh dan pekerja pun sejahtera secara bersamaan.
PKB Jadi Landasan Hubungan Industrial Transformatif
Dalam peralihan menuju hubungan industrial yang lebih kolaboratif, Perjanjian Kerja Bersama (PKB) disebut sebagai elemen kunci.
PKB adalah perjanjian antara pekerja atau serikat pekerja dengan pengusaha yang mengatur syarat kerja, hak, dan kewajiban kedua belah pihak, serta menjadi dasar hubungan kerja di perusahaan.
PKB bukan sekadar dokumen formal, melainkan pedoman bersama untuk memperjelas hak dan kewajiban, serta menjadi acuan dalam menciptakan kepastian hubungan kerja.
Menaker menyampaikan bahwa hingga November 2025, sebanyak 16.161 perusahaan telah melaporkan memiliki PKB melalui aplikasi Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan (WLKP).
Kemnaker juga telah menyusun kerangka kerja untuk mengukur sejauh mana perusahaan membangun hubungan industrial yang lebih transformatif.
Jika transformasi ini berjalan optimal, industri di Indonesia diyakini akan mampu berkembang lebih pesat dan kompetitif secara global.
- Penulis :
- Aditya Yohan







