
Pantau - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai salah satu kunci utama dalam pidato Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) 2026 adalah penekanan pada peran Danantara dalam mendorong kerja sama investasi industri.
Bhima menyebut bahwa ajakan co-investment melalui Danantara menjadi bagian penting dari strategi Prabowo untuk menarik mitra global.
"Kunci pidato Prabowo terletak pada kehadiran Danantara yang mengajak co-invest atau kerja sama investasi industri pada para peserta di WEF. Meskipun jenis industri masa depan tidak dijelaskan secara detil," ungkap Bhima.
Pidato Tekankan Stabilitas Fiskal dan Kepastian Hukum
Bhima menilai bahwa pidato tersebut menunjukkan pendekatan inward looking, dengan fokus pada capaian dan kredibilitas program selama tahun pertama pemerintahan Prabowo.
Pidato dibuka dengan penegasan bahwa Indonesia mampu bertahan dalam tekanan global dan ketidakpastian ekonomi eksternal.
Prabowo menyampaikan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali di bawah 3 persen, dan kemampuan membayar utang nasional masih berada dalam kategori aman.
"Tanggapan ini muncul karena adanya dampak pelebaran defisit APBN pada pelemahan nilai tukar rupiah yang menjadi concern dari pelaku pasar global. Setelah mendengar pidato, investor diharapkan bisa lebih melihat Indonesia sebagai negara yang risiko fiskalnya terkelola dengan baik," jelas Bhima.
Selain isu fiskal, Prabowo juga menyinggung dua program prioritas nasional, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Pada bagian akhir pidato, Bhima mencatat bahwa Prabowo menekankan pentingnya kepastian hukum sebagai salah satu pencapaian utama pemerintahannya.
"Memang harus diakui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) untuk menertibkan izin di kawasan hutan bekerja cepat. Prabowo juga wajar membanggakan pencabutan izin 28 perusahaan yang menyebabkan kerugian ekologis," tambahnya.
Kritik: Transisi Energi Tidak Tersentuh dalam Ajakan Investasi
Meski memberikan penilaian positif, Bhima juga menyoroti celah dalam pidato tersebut, terutama absennya ajakan eksplisit untuk kerja sama transisi energi.
Ia menilai bahwa peluang investasi di sektor energi bersih, seperti rencana pemasangan 100 gigawatt (GW) panel surya di desa-desa, seharusnya disampaikan di forum sebesar WEF.
"Peluang transisi energi idealnya menjadi daya ungkit bagi ekonomi Indonesia, karena sebagian investor yang hadir di WEF berlatar belakang sektor energi," kata Bhima.
Menurutnya, tanpa menyentuh sektor ini secara langsung, Indonesia berisiko kehilangan momentum dalam menarik investasi hijau yang saat ini menjadi fokus global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







