
Pantau - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan bahwa industri sawit diharapkan terus tumbuh dan memainkan peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, energi, dan pembangunan wilayah secara berkelanjutan.
"Kami juga berharap industri ini menjadi bagian solusi ketahanan pangan dan energi, pembangunan wilayah, dan keberlanjutan lingkungan yang lebih baik," kata Ketua Gapki Eddy Martono dalam Seminar Nasional di Jakarta, Jumat.
Eddy menyampaikan bahwa industri kelapa sawit menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 16,5 juta kepala keluarga, baik petani maupun karyawan perusahaan sawit.
Ia juga menekankan kontribusi besar industri ini terhadap perekonomian nasional, dengan nilai ekspor sebesar 39 miliar dolar AS pada 2022, yang turut menyumbang pada surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar 56 miliar dolar AS.
Perlu Sinergi dan Hilirisasi untuk Wujudkan Industri Berkelanjutan
Dalam seminar bertema “Menakar Industri Sawit dari Aspek Sosial, Ekonomi dan Lingkungan” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Lahan dan Fakultas Pertanian UPN "Veteran" Yogyakarta, sejumlah akademisi turut memberikan pandangan.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bustanul Arifin, menyebutkan bahwa Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan pangsa pasar global sebesar 48 persen.
Luas perkebunan sawit pada 2025 mencapai 17,1 juta hektare dengan produksi CPO sebesar 49,4 juta ton.
"Ekonomi sawit harus didorong menuju industri berkelanjutan. Untuk itu perlu sinergi berupa hilirisasi produk dan penguatan hulu kebun," kata Bustanul.
Menurutnya, keberhasilan hilirisasi bergantung pada integrasi sektor hulu, konsistensi kebijakan budidaya, dan peningkatan nilai tambah industri sawit.
"Peta jalan hilirisasi perlu mengarah pada pengembangan industri pangan fungsional, berdampak kesehatan dan vitalitas," ujarnya.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Mulawarman, Zulkarnain, menyatakan bahwa sawit merupakan sumber minyak nabati terbesar di dunia dengan produktivitas tinggi dan peran strategis dalam industri pangan, energi, dan manufaktur global.
Namun, dominasi tersebut juga menjadikan sawit sebagai sasaran kritik, regulasi ketat, dan konflik kebijakan internasional.
"Sehingga sawit bertransformasi dari sekedar komoditas pertanian menjadi isu strategis nasional," kata Zulkarnain.
Sawit sebagai Kekuatan Geopolitik dan Solusi Sosial Lingkungan
Menurut Zulkarnain, strategi pengembangan sawit ke depan harus dilihat sebagai kekuatan geopolitik ekonomi Indonesia di dunia internasional.
Ia mencatat bahwa hanya sebagian kecil kebun sawit yang dimiliki pemerintah, namun sistem plasma inti dinilai mampu memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat sekitar kebun.
Dari sisi lingkungan, aktivitas perkebunan sawit juga disebut mampu menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah, sekaligus menjadi bahan baku penting bagi industri energi baru terbarukan (EBT).
Berdasarkan hasil kajian, industri sawit dinilai memberikan dampak positif secara teknis, lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi terhadap pembangunan wilayah dan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Dampak tersebut sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam geopolitik dan ekonomi global.
Oleh karena itu, Zulkarnain menilai bahwa kelapa sawit layak ditetapkan sebagai komoditas strategis nasional dan perlu diatur secara eksplisit dalam peraturan perundang-undangan.
Sementara itu, akademisi UPN "Veteran" Yogyakarta, Eko Murdiyanto, berharap agar keuntungan dari industri sawit berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kepedulian sosial.
Secara budaya sosial, industri sawit diharapkan mampu menumbuhkan semangat sociopreneur yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
"Maka, pengembangan perusahaan akan diikuti dengan kemampuan masyarakat yang semakin berdaya dan lingkungan lestari," ujarnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan








