Pantau Flash
Luhut Klaim Sektor Pariwisata Bisa Pulih dalam 10 Bulan Akibat COVID-19
Kemnaker: Ada 1,7 Pekerja Terdampak Pandemi COVID-19
Kemenkes Tegaskan Imunisasi Harus Jalan Selama Pandemi Korona
Jusuf Kalla: Fatwa MUI DKI 2001 Perbolehkan Salat Jumat 2 Gelombang
Gugus Tugas: Skema Herd Immunity Butuh Waktu yang Lama

ESDM Sebut Pembangunan Smelter Akan Mangkrak Gegara Teror Korona

ESDM Sebut Pembangunan Smelter Akan Mangkrak Gegara Teror Korona ilustrasi Smelter. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara menyebut pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) terganggu akibat dampak mewabahnya virus korona jenis baru (COVID-19) di China.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Bambang Gatot dalam paparan di Jakarta, Kamis, menjelaskan dirinya baru beberapa waktu lalu berkunjung ke fasilitas smelter milik perusahaan asal China Virtue Dragon Nickel Industry di Sulawesi Tenggara. Perusahaan itu saat ini masih dalam tahap pembangunan.

"Untuk pekerjaan smelter, kebetulan saya kemarin datang ke Virtue Dragon. Memang yang masih dalam tahap pembangunan masih terganggu karena tenaga kerja asal China yang pulang tidak bisa kembali," katanya.

Baca juga: Kementerian ESDM Akan Investasi Pembangunan 52 Smelter

Bambang menuturkan sekitar 300 hingga 400 pekerja China belum bisa kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pekerjaannya. "Jadi yang masih berjalan dan sudah berjalan (sudah produksi) sepertinya tidak mengalami gangguan tapi yang masih konstruksi mengalami gangguan," jelasnya.

Kendati demikian, Bambang menyebut dampak corona cepat atau lambat akan dapat terasa bagi industri tambang. Namun, hingga saat ini belum ada perusahaan yang menyampaikan keluhan atau gangguan akibat korona.

Selain itu, jika dilihat dari perkembangan harga komoditas tambang, ia juga mengatakan harga masih cenderung stabil.

Baca juga: Penting Nih! Perusahaan Tambang Wajib Sediakan Biaya Eksplorasi Minerba

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan dampaknya akan terasa dalam waktu panjang (long term). "Saya amati dari perkembangan harga masih bagus, mulai dari bauksit, timah, emas, batubara juga relatif lumayan. Jadi belum tercermin kondisi tidak membaik, itu belum kelihatan," katanya.

Kementerian ESDM menargetkan pembangunan 52 fasilitas pemurnian atau smelter hingga 2023 dengan rencana investasi USD20,4 miliar.

Saat ini, telah ada 17 smelter eksisting dengan rincian 11 smelter nikel, dua smelter bauksit, satu smelter besi, dua smelter tembaga, dan satu smelter mangan. Ada pun rencananya akan ada penambahan 18 smelter nikel, tujuh smelter bauksit, tiga smelter besi, dua smelter tembaga, satu smelter mangan dan empat smelter timbal dan seng.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: