Pantau Flash
Presiden Jokowi Kaji Prioritas Usulan 245 Proyek Strategis Nasional Baru
Usai PSBB, Terbitlah Pusat Perbelanjaan Kota Malang
Indonesia Kecam Rencana Aneksasi Israel Terhadap Palestina
Welcome New Normal: Penumpang KRL Dilarang Bicara dan Telepon
Pasien Sembuh COVID-19 Kembali Bertambah, Kini Total 6.240

Tak Ada Lagi Gambar Indah! Ini 5 Bukti Mengerikannya Perubahan Iklim Dunia

Tak Ada Lagi Gambar Indah! Ini 5 Bukti Mengerikannya Perubahan Iklim Dunia Asap-asap pabrik yang menjadi salah satu penyebab perubahan iklim dunia. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Perubahan iklim yang telah diprotes oleh para ilmuan dan aktivis dunia sejak lama kini mulai disikapi serius oleh negara-negara di seluruh dunia. Para pemimpin negara dan para politisi dunia kini buka mata terhadap bahaya dari global warming.

Perubahan iklim diketahu telah mencairkan gletser di puncak-puncak himalaya, meruntuhkan gunung es di Antartika dan Arktik, serta menjadi suhu ekstrem di bumi. Sejumlah tempat bahkan telah terlihat dampak dari perubahan iklim ini.

Berikut 5 bukti tempat yang terdampak global warming dirangkum Pantau.com dari berbagai sumber.

Baca juga: Isu Perubahan Iklim Paling Dikhawatirkan Pemimpin Perusahaan di Australia

1. Pohon Baobab, Afrika Selatan

Pohon Baobab di Afrika. (Foto: Wikimedia)

Salah satu organisme tertua yang hidup di Afrika, Baobab, pohon-pohon yang dapat hidup hingga 3.000 tahun dan sering disebut "pohon kehidupan" menjadi imbas perubahan iklim. Selama 12 tahun terakhir, lima dari enam yang pohon terbesar dan sembilan dari 13 pohon tertua telah mati, baik sepenuhnya atau sebagian. 

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan di Nature Plants, hal tersebut mungkin disebabkan oleh perubahan iklim bumi.

Kondisi pohon Baobab usai perubahan iklim. (Foto: AP Photo)

2. Antartika dan Arktik

Gletser di Greenland. (Foto: Reuters/Lucas Jackson)

Menurut penelitian jurnal Nature, sejak 1992, benua es ini disebutkan telah kehilangan sekitar lebih dari 3,3 triliun ton es yang memicu kenaikan permukaan air laut global sekitar seperempat inci atau 0,63 cm. 

Para peneliti memperkirakan bahwa laju hilangnya es telah melonjak dari 73 miliar metrik ton per tahun pada 2007 menjadi 219 miliar ton pada 2017 --peningkatan tiga kali lipat yang dapat meningkatkan permukaan laut enam inci atau 15,2 cm pada 2100.

Pantai barat Semenanjung Antartika adalah salah satu kawasan dengan pemanasan paling cepat di planet ini. Hal ini mempengaruhi distribusi koloni penguin di sepanjang pantai karena kondisi es laut telah berubah, ungkap Discovering Antarctica.

Sementara itu, Arktik memanas hampir dua kali lipat dari rata-rata suhu global dengan es laut menghilang dari ekosistem. Hal itu juga berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut global. Di masa depan, ini bisa membuat perikanan Kutub Utara menghilang dan merusak garis pantai, menurut WWF.

3. Hutan Tropis Amazon

Kondisi hutan Amazon akibat perubahan iklim. (Foto: Reuters)

Baca juga: KTT Polandia Serukan Aksi Nyata untuk Atasi Perubahan Iklim

Perubahan iklim memaksa seluruh spesies tumbuhan maupun hewan di hutan besar ini berada di ambang kepunahan. Menurut laporan United Nations Environment Program, hutan hujan tropis terbesar di dunia (mencakup sekitar 40 persen dari benua Amerika) tidak hanya mengalami peningkatan dalam deforestasi tetapi juga kekeringan ekstrem yang membuatnya rentan terhadap kebakaran.

4. Venesia, Italia

Banjir di Venesia, Italia. (Foto: Reuters)

Penduduk setempat perlahan-lahan mulai terbiasa dengan banjir Piazza San Marco dan daerah dataran rendah lainnya di Venesia, Italia. Tetapi, dengan naiknya permukaan laut, Venesia semakin tenggelam. 

Kota kanal tenggelam cukup cepat sehingga tidak dapat dihuni pada akhir abad ini, para ilmuwan di Venice in Peril fund telah memberi peringatan akan perubahan iklim ini dan dampak terhadap kota itu.

5. Great Barrier Reef, Australia

Great Barrier Reef. (Foto: Reuters)

Terumbu karang terbesar di dunia dengan luas lebih dari 132.973,5 mil persegi, telah mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat naiknya suhu lautan. Daerah yang luas telah mengalami pemutihan karang --suatu kondisi di mana karang berubah putih dan rentan terhadap kematian massal. 

Sebuah laporan ARC Center of Excellence for Coral Reef Studies (Pusat Keunggulan ARC untuk Studi Terumbu Karang) menemukan bahwa sekitar 93 persen karang telah mengalami pemutihan sampai tingkat tertentu.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - NPW

Berita Terkait: