Pantau Flash
Febri Diansyah Mundur dari KPK
Idap Kanker Paru Stadium 4, Suami Bupati Bogor Ade Yasin Tutup Usia
Pasar Cempaka Putih Kebakaran, Damkar Sempat Alami Kesulitan Air
Ketua KPK Firli Bahuri Dinyatakan Langgar Kode Etik Gunakan Helikopter
KPU Akhirnya Larang Konser untuk Kampanye di Pilkada 2020

Begini Akhir Nasib Warga Jayawijaya Papua yang Minta Izin Perang 3 Hari

Begini Akhir Nasib Warga Jayawijaya Papua yang Minta Izin Perang 3 Hari Kepolisian Jayawijaya yang saat itu membatasi warga bersenjata tradisional yang hendak berperang. (Foto: Antara/Marius Frisson Yewun)

Pantau.com - Dua kampung yang berperang di Jayawijaya, Provinsi Papua, beberapa waktu lalu akhirnya sepakat membayar denda adat untuk perdamaian berupa 65 ekor babi, yang diperkirakan seharga dua miliar lebih.

Kapolres Jayawijaya AKBP Dominggus Rumaropen di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Selasa (25/8/2020), mengatakan mediasi besaran denda adat berlangsung di Mapolres pada Senin, 24 Agustus 2020, pukul 12.00 siang hingga pukul 24.00 malam.

"Tuntutan denda dari kedua pihak adalah masing-masing bayar. Pihak Ismael (korban pembunuhan) dibayar denda 35 wam (babi), sedangkan Yairus (korban pembunuhan) dibayar dengan 30 wam, jadi kedua pihak harus menyediakan 65 ekor wam," katanya.

Baca juga: Warga di Papua Minta Izin Perang 3 Hari, 1.000 Massa Persenjatai Diri

Kapolres mengatakan pembayaran denda ternak babi akan dilakukan September mendatang. Jika jumlah babi yang nantinya disediakan, dikalikan dengan harga pasaran ternak babi di Jayawijaya maka secara keseluruhan mencapai dua miliar lebih. "Wam (babi) itukan di sini harganya per ekor Rp40-50 juta. Proses pembayaran denda akan dilaksanakan 7 September. Dua minggu dari hari ini," katanya.

Menurut kapolres yang saat itu memimpin langsung mediasi besaran denda, kedua pihak sempat ingin menunda pertemuan dan akan dilanjutkan pada esok harinya, namun dirinya tidak mengizinkan agar persoalan itu tidak berlarut-larut.

"Karena campur tangan Tuhan, ada Roh dan kemungkinan karena stamina kedua pihak menurun sebab pertemuan dari jam 12 siang sampai 12 malam, akhirnya mereka sepakat mengakhiri sengketa," katanya.

Kapolres menyampaikan terimakasih kepada FKUB, ketua LMA Jayawijaya, kepala perang suku, kepala suku, kepala distrik, ketua LMA dua distrik, kepala desa yang ikut memediasi penyelesaian besaran denda tersebut.

Baca juga: Kondisi Tembagapura Tidak Aman, 1.000 Warga Diminta Tetap Mengungsi

Sebelumnya, warga dua kampung berbeda di Jayawijaya meminta agar Kapolres Jayawijaya mengizinkan mereka untuk saling berperang secara tradisional selama tiga hari.

"Kedua pihak minta untuk perang, minta aparat berikan kesempatan mereka berperang tiga hari. Tetapi tentunya tidak mungkin kami berikan izin untuk mereka berperang karena kita sayang kepada warga, jangan sampai di kedua bela pihak jatuh korban jiwa lagi," katanya, Kamis 20 Agustus lalu.

Pada hari kedua ini tidak terdapat korban jiwa seperti hari pertama pada Rabu 19 Agustus, yang mengakibatkan delapan masyarakat dilarikan ke RSUD Wamena karena mengalami luka-luka akibat senjata tradisional. Massa masing-masing kelompok yang mempersenjatai diri dengan senjata tradisional pada Kamis ini diperkirakan jumlahnya di atas 1.000 orang. 

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: