Forgot Password Register

Headlines

Berniat Jadi Pengusaha Fintech? Yuk Perhatikan Poin-poin Ini

Berniat Jadi Pengusaha Fintech? Yuk Perhatikan Poin-poin Ini Ilustrasi fintech. (Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Fintech memang tengah menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelaku usaha millennial saat ini. Tercatat 135 perusaahan Fintech telah terdaftar menjadi anggota resmi Asosiasi Fintech (Aftech) Indonesia. 

Namun bagi para pelaku yang juga tertarik untuk memulai usaha di bidang Fintech tentu harus memperhatikan beberapa hal.

Ketua Asosiasi Fintech (Aftech) Indonesia, Andrian Gunadi mengatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pelaku perintis atau Start-Up Fintech company.

"Yang perlu diperhatikan ya aspek resikonya bagiamana bisnisnya bisa skill aspek perlindungan konsumen, aspek management resiko harus diantisipasi," ujarnya kepada Pantau.com saat ditemui di Gedung OJK, jl. Lapangan banteng timur, Jakarta Pusat, Jumat (13/4/2018).

Baca juga: Indonesia Jadi Primadona Fintech, Aftech: Manfaatkan Mometum untuk Lebih Progresif

Lebih lanjut Deputi Komisioner OJK Institute, Sukarela Batunanggar menambahkan ada beberapa perbedaan antara bisnis keuangan yang berbasis teknologi degan lembaga keuangan seperti perbankan.

"Kalau fintech company melakukan disintermediasi cenderung menyediakan platform teknologi seperti mengarah pada P2P, itulah beda bisnis modern," ujarnya dalam pemaparan di Gedung OJK.

Selain itu, kata Batunanggar, modal resikonya pun berbeda. Dalam perbankan resiko pengumpulan dana reskko pemberian dana semua dikelola bank. "Sedangkan fintech resikonya lebih banyak pada kreditur meskipun sebagian juga di fintech company," katanya.

Dengan beberapa perbedaan tersebut sehingga dalam regulasinya, OJK hanya mengatur dengan beberapa aturan pokok yang bersifat dasar mengenau tata kelola perusahaan yang baik.

"Apa bagian dari tata kelola yang baik; transparansi yang baik pada kreditur, lalu akuntabel, inovasi yang bertanggungjawab, harus bermanfaat, lalu aman artinya melindungi kreditur debitur menjamin keamanan transaksi maupun kerahasiaan data dan lainnya," paparnya.

Baca juga: Asosiasi Fintech Akan Terbitkan Kode Perilaku, Apa itu?

Selain itu terkait pengawasan fintech juga berbeda dengan bank yang memiliki standar internasional, sudah jelas dalam Peraturan OJK, ada pedoman pengawasan, hingga petugas pengawas bank yang setiap hari monitoring review terhadap operasi dari bank. "Sedangkan fintech pendekatannya berbeda, lebih mendasarkan diri pada pada market dicipline," katanya.

Artinya kata Batunanggar, pada industri harus dibangun suatu disiplin yang baik, tata kelola baik, perlindungan konsumen, fearness terhadap jasa-jasa yang dilakukan dan seterusnya.

"Lalu juga melakukan self assessment, mengenerate report-report yang bermanfaat dan melakukan publikasi, sehingga kreditur debitur bisa melakukan self assessment; bisa menilai dan memahami resikonya. Itu yg disebut market dicipline," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More