Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp16.847 per Dolar AS, Didukung Sentimen Global dan Pernyataan Trump

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp16.847 per Dolar AS, Didukung Sentimen Global dan Pernyataan Trump
Foto: (Sumber: Arsip foto - Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (15/1/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym..)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat, 23 Januari 2026, tercatat menguat sebesar 49 poin atau 0,29 persen ke level Rp16.847 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.896 per dolar AS.

Sentimen Global Dorong Penguatan Rupiah

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyatakan bahwa penguatan rupiah didorong oleh sentimen positif dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait isu geopolitik.

"Kelihatan pagi ini indeks saham Asia positif, semalam juga indeks saham Amerika Serikat (AS) positif. Beberapa nilai tukar emerging market juga kelihatan menguat terhadap dolar Amerika Serikat," ungkap Ariston.

Mengutip laporan Kyodo-OANA, Trump menepis kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk merebut Greenland sebagai bagian dari rencana akuisisi wilayah Arktik yang semi-otonom tersebut.

Selain itu, Trump juga mencabut ancaman pengenaan tarif sebesar 10 persen terhadap sejumlah barang dari delapan negara Eropa yang sebelumnya dijadwalkan berlaku mulai Februari.

Pencabutan tarif ini dilakukan setelah negara-negara Eropa menolak rencana pengambilalihan Greenland oleh AS dari Denmark.

Langkah tersebut memberikan efek positif terhadap pergerakan sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Penguatan Masih Terbatas, Tekanan Domestik Berlanjut

Meskipun terdapat penguatan, Ariston menilai bahwa penguatan rupiah tetap akan terbatas dalam jangka pendek.

Menurutnya, kisaran penguatan rupiah diperkirakan hanya akan berada di antara Rp16.780 hingga Rp16.800 per dolar AS.

"Overall tekanan terhadap rupiah masih besar karena kebijakan moneter Bank Indonesia yang masih tetap longgar, stimulus besar-besaran dari pemerintah ke perekonomian, kemudian situasi bencana yang berpotensi meredam pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75 persen dinilai Ariston sebagai langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas pasar.

Namun, ia memperingatkan bahwa pelonggaran lanjutan dapat membawa risiko terhadap nilai tukar.

"(Jika) Bank Indonesia memangkas suku bunga lagi atau memberi indikasi pelonggaran terus, mungkin bank sentral Indonesia tidak kuat untuk menahan pelemahan rupiah," tambah Ariston.

Penulis :
Ahmad Yusuf