Pantau Flash
7.714 Pasien di RSD Wisma Atlet Dinyatakan Sembuh dari COVID-19
7 Orang Tewas Akibat Kebakaran di Hotel Fasilitas COVID-19 India
Ronaldinho Segera Bebas Setelah Kejaksaan Sepakati Kesepakatan
Polisi Jerat 'Gilang Bungkus' dengan Pasal Perbuatan Tidak Menyenangkan
Juventus Resmi Pecat Maurizio Sarri

Jerman Tolak Usulan Trump Soal Terima Kembali Rusia ke G7

Jerman Tolak Usulan Trump Soal Terima Kembali Rusia ke G7 Bendera Jerman (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Jerman menolak usul Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin kembali ke kelompok tujuh negara dengan ekonomi paling maju (G7), kata Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas.

Maas mengungkapkan penolakan itu dalam wawancara dengan surat kabar Rheinische Post, Senin waktu setempat (27/7/2020).

Trump pada Juni lalu membuka opsi kembali memperluas keanggotaan G7 dengan memasukkan Rusia, yang dikeluarkan dari kelompok itu pada 2014 terkait pencaplokan wilayah Krimea di Ukraina oleh Moskow.

Baca juga: Trump Perpanjang Masa Pemberian Tunjangan kepada Pengangguran

Maas mengatakan kepada Rheinishce Post bahwa ia tidak melihat ada peluang untuk membiarkan Rusia masuk kembali menjadi anggota G7 karena tidak ada kemajuan berarti dalam penyelesaian konflik di Krimea serta di Ukraina timur.

Meski tak dapat dipungkiri, Rusia bisa saja menjadi penyumbang terbesar jika bergabung dengan G7 lagi serta berkontribusi pada penyelesaian damai dalam konflik Ukraina, kata Maas.

Rusia masih menjadi anggota G20, kelompok lebih luas yang mencakup negara-negara dengan ekonomi menuju maju.

"G7 dan G20 adalah dua format yang dikoordinasikan secara bijaksana. Kita tidak lagi perlu G11 atau G12," kata Maas. Ia merujuk pernyataannya itu pada usul Trump untuk tidak hanya mengundang Rusia, tetapi juga negara-negara lain, ke pertemuan G7.

Baca juga: Kim Jong Un Berikan Pernyataan Tak Terduga Soal COVID-19 di Negaranya

Maas menggambarkan hubungan dengan Rusia sebagai ikatan yang sulit di berbagai bidang.

"Tapi kita juga tahu bahwa kita butuh Rusia untuk menyelesaikan konflik-konflik, seperti di Suriah, Libya, dan Ukraina. Upaya itu tidak akan berhasil dengan menolak Rusia, hanya bisa dengan memasukkan Rusia."

Jerman, yang mulai 1 Juli mengambil alih jabatan sebagai ketua Uni Eropa, posisi yang digilir setiap enam bulan, telah mengambil peranan sebagai penengah konflik Libya, juga Ukraina.

"Tapi, Rusia juga harus memberikan kontribusinya, yang sangat lambat di Ukraina," kata Maas.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: